Langsung ke konten utama

Postingan

Bidadari Bumi

"Sayang, sudah jam 3." Suara lembut menelisik ruang-ruang gendang telingaku. Mendayu-dayu dengan kelembutan cinta tiada tara. Aku pun menggeliat perlahan. "Alhamdulillah al-ladzi ahyana ba'dama ama tana wailaih an-nushur." Sebait do'a meluncur dari bibirku. Aku menatap mesra wanita yang bersimpuh di sampingku. Kukecup keningnya selembut dan semesra mungkin."Terima kasih sayang. Maha Kuasa Alloh yang telah menganugerahiku kekasih terhebat dalam sejarah perjalanan cinta manusia." Aku melantunkan ayat-ayat suci alquran berbalut keharuan yang mendalam saat qiyamullail cinta ini. Betapa tidak terharunya, Alloh menyandingkanku dengan seorang bidadari bumi terhebat yang melabuhkan cintanya kepada Alloh. Alhamdulillah. Robbana hablana min azwajina wadurriyatina qurrota a'yun waja'alna lil muttaqina imama. Aamiin. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati.

Segenggam Gumam

Setelah bertahun-tahun aku membenci diriku dan menutup pintu maaf untukku, akhirnya perlahan namun pasti aku mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan dan harapan-harapan diriku yang terlarai. Aku kembali memunguti puing-puing berserakan itu. Mencoba focus dengan masa depanku. Aku tahu kesalahanku terlalu besar di mataku, tapi aku pun mencoba menyadari betapa tak mudahnya hidup di tengah gelombang tsunami kehidupan. Arusnya melemparkanku dan menenggelamkanku begitu dalam. Mungkin saja, jika Alloh tidak menarik tanganku ke atas, binasalah diriku. Kesempurnaan seorang ikhwan sejati yang kuharapkan menyatu dengan diriku memang hanyalah harapan kosong belaka. Setelah noda-noda hitam itu datang, aku benar-benar kecewa. Sungguh, tak terpira betapa kecewanya diriku. Harapan itu pergi. Aku tak sempurna seperti yang kuharapkan. Aku kalah. Itulah kekecewaan yang kurasakan selama bertahun-tahun. Kurun waktu tahun 2007-2013.. Lama sekali. Kini, aku mencoba berjalan walaupun aku tahu jalank...

Pusaran Rindu

Saat jam denting dua, sebuah pesan singkat nampak menari-nari dalam handphone jadulku. "Mas, اِ Ù†ْ Ø´َØ¢ Ø¡َ اللّÙ‡ُ minggu depan aku berangkat ke Jerman. Kuliah." Sebuah rasa syahdu menyentil ruang senduku. Nampaknya, aku akan kehilangan dia selamanya. Haruskah kuungkapkan segenap rasa hatiku kepadanya? Aku tahu. Aku sedang bermain hati dengan sebuah harapan hampa. Tapi, apa salahnya jika aku mengatakannya sekarang dengan seluruh jujur yang kupunya? Aku mencintainya sejak pertama kali aku mengenalnya. Dua belas tahun yang lalu.  Aku merindukannya. Namun, aku pun tak lupakan logikaku. Siapa dirinya, siapa diriku. Tapi, minggu depan ia akan pergi dan mungkin takkan bersua kembali denganku. Biarlah harapan hampa ini tinggallah harapan.  Kutarik nafas sedalam-dalamnya nafas, mencoba menguatkan mental kelelakianku. Setitik keraguan memagut jiwaku. Sebuah pertanyaan merayuku untuk diam,"Apakah kejujuran ini hanya akan mempermalukanku saja?"  Keheningan ma...

Catatan Hati Seorang Ukhtie 3 : Sepenggal Kisah

"Apa yang kamu harapkan dari kisah perjalanan cinta ini?" Kataku perlahan. "Apakah cuma menikmati sepenggal kisah saja tanpa keseriusan hendak dibawa kemana kisah ini?" Ia hanya diam tanpa kata. Aneh. Lelaki sedewasanya tak bisa bersikap dewasa. Mungkinkah ia tidak sedewasa seperti yang kukira? Terlalu sering aku menggugatnya dengan ucapan "Sampai kapan?". Entahlah. Aku merasa sedang menantang sang waktu. Perempuan pun ingin jua dimengerti apa yang diinginkannya. Namun tampaknya, laki-laki di sampingku ini tak pernah sedikit pun memahami apa yang aku inginkan dan harapkan. Nampaknya kata "Nanti" sudah cukup baginya melemaskan lidah ketidakdewasaannya yang sedari tadi diam membisu. Sejatinya, sungguh jauh dari memuaskan hatiku. Aku butuh tak cukup sekedar kata "nanti", tapi "kapan?" Waktu terlalu cepat melangkah. Melesat secepat kilat. Meluncur bak anak panah lepas dari busurnya. Usiaku bertambah dan ia ...

Hingga Akhir Waktu

"Kamu tahu jika usiaku hampir tiga puluh. Ingat, aku seorang wanita. Bagi seorang wanita usia tiga puluh sangat rentan dan menakutkan. Saat pernikahan sepupuku, om dan tanteku bertanya kapan aku menyusul. Dan tentu saja orang tuaku, selalu membahas dan bertanya kapan. Aku tertekan. Please, tolong jawab, apa yang harus aku lakukan. Aku mohon berikan aku sebuah kepastian yang akan membuatku tenang." Aku terdiam mendengar serbuan harapan-harapannya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku terlalu lelah... "Kenapa kamu selalu diam jika aku bertanya kesungguhan dan keseriusanmu? Kenapa? Kamu memang tak punya hati. Tak punya perasaan. Kamu memang tak punya niat serius berhubungan denganku. Kamu egois. Kamu tidak pernah belajar untuk dewasa." Aku masih terdiam membisu. Hanya tarikan nafasku semakin sesak dan hembusan nafasku terasa berat. "Baik. Baiklah. Diam adalah pilihanmu. Aku tak sanggup lagi bertahan dan bersabar menunggu sikap dewasamu. Aku lelah.."...

Firasat Jiwa

Hidup tidak sesederhana seperti yang kita kira. Ada banyak jalan berliku yang harus kita tempuh. Bukan hanya satu jalan berliku, terlalu banyak liku jalan pilihan. Dan tidak simpel pula dalam proses pemilihan jalan itu. Terkadang kita keliru. Lalu pertanyaannya, haruskah kita mengalami kekeliruan pilihan jalan itu? Atau jangan2, kekeliruan itulah yang akan menunjukkan jalan terpilih tujuan sejati hidup kita? Entahlah Entahlah, terlalu banyak keluh yg terdetik dalam jiwaku. Mungkin jiwaku terlalu lelah menghadapi getar-getar asa yg membuncah. Memang harus kuakui, jiwa itu laksana sarang laba-laba yang terbuat dari benang rapuh. Tidak kuasa menahan beban terlalu berat. Tapi, saat kulihat jiwa kalian begitu mampu menahan arus perubahan hidup setitik pertanyaan mencuat dalam batinku. Jangan2 hanya jiwaku saja yang terbuat dari benang tipis itu dan jiwamu terbuat dari kawat baja sehingga sanggup menahan beban seberat apapun. Dan kuakui, aku iri. Jangan2 hanya jiwaku saja yang terbuat dari...

Lara Hati

Segurat luka nan perih masih menyisakan tanya dalam hatiku. Tak kuasa aku menyembuhkan luka hati secepat kilat. Sebuah pertanyaan yang masih saja berteriak dalam diamku selama ini. "Mengapa ia menolak pinanganku? Mengapa?" Dalam kamusku, jika ada seorang laki-laki yang baik datang meminang seorang akhwat wajib baginya untuk menerimanya. Dan aku pikir, aku laki-laki yang baik. Mungkin. Semoga saja. Ya, tentu saja aku seorang laki-laki yang baik. Aku seorang lulusan pesantren dan sarjana sekolah tinggi agama Islam. Tentulah aku orang baik. Aku pun hapal hampir sepuluh juz alQuran. Dan aku merasa, aku tak pantas untuk ditolak. Astaghfirulloh al-Adzhim.. Kuusap paras muramku. Aku beristighfar berkali-kali. Tak kusangka sampai keluar suara ujub nan takabbur. Siapalah diriku? Tak lebih dari tanah hina yang bernyawa. Kubuka jendela kayu berukir mawar. Derit suaranya yang menjerit bak deskripsi tangisan hatiku. Sekali pun aku tak pernah ditolak wanita ataupun akhwat. Karena memang ...