Langsung ke konten utama

Segenggam Gumam


Setelah bertahun-tahun aku membenci diriku dan menutup pintu maaf untukku, akhirnya perlahan namun pasti aku mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan dan harapan-harapan diriku yang terlarai.
Aku kembali memunguti puing-puing berserakan itu. Mencoba focus dengan masa depanku. Aku tahu kesalahanku terlalu besar di mataku, tapi aku pun mencoba menyadari betapa tak mudahnya hidup di tengah gelombang tsunami kehidupan. Arusnya melemparkanku dan menenggelamkanku begitu dalam. Mungkin saja, jika Alloh tidak menarik tanganku ke atas, binasalah diriku.
Kesempurnaan seorang ikhwan sejati yang kuharapkan menyatu dengan diriku memang hanyalah harapan kosong belaka. Setelah noda-noda hitam itu datang, aku benar-benar kecewa. Sungguh, tak terpira betapa kecewanya diriku. Harapan itu pergi. Aku tak sempurna seperti yang kuharapkan. Aku kalah.
Itulah kekecewaan yang kurasakan selama bertahun-tahun. Kurun waktu tahun 2007-2013.. Lama sekali.
Kini, aku mencoba berjalan walaupun aku tahu jalanku tertatih-tatih. Tak apalah. Aku mulai focus dengan tujuanku. Aku sudah membayangkan akhir tujuanku jika aku focus dengan kekinianku. Nampak kegemilangan masa depan terbayang jelas dalam anganku. Di depanku berdiri laki-laki hebat itu. Itu aku.
Akan ada masa yang panjang. Aku tahu. Aku tahu. Mungkin itulah hakikat hidup sebenarnya. Hidup adalah proses menjadi. Begitulah sejatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta & Nafsu

Saat ini aku tak punya cinta untukmu. Aku hanya bisa memberikan nafsuku padamu. Tak ada cinta sedikitpun. Cintaku hanya untuk istriku kelak. Terserah kamu mau berkata apa. Toh jujur kukatakan. Tak ada cinta untukku padamu wahai gadis. Aku hanya bernafsu padamu. So, jangan dekati diriku sebelum sesalmu nanti.

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...