Langsung ke konten utama

Segenggam Gumam Dalam Simpul Cinta Dan Rinduku

Segenggam gumam dalam simpul cinta dan rinduku

Dalam ketermanguanku,aku pilu
Dalam gumamku,aku teriak
Dalam cintaku,ada tangis
Sudahlah semua biar berlalu,
berlalu masa yg panjang,ia takkan kembali.
Dia hanyalah simpul cinta dan rinduku.

Biar Alloh yg menilai syukurku,
biar Alloh yg menjawab doaku.
Sudahlah..... masa pun kan berlalu...

Pintaku,
kembali kemasa SMA takkan kembali,
biar simpul cinta dan rinduku menyatu dalam pilu.

Pintaku,
Sua sahabat SMA kan jadi pelipur lara.
(Malam Senin, dalam dunia yg penuh warna,27 April 2008,10:00)

Udin...,dimanakah engkau? Tak rindukah kau pada saudaramu ini?
Entah berapa tahun tak jua bersua? Masih ingatkah saat kelas 1,malam mingguan bersama,sambil melihat keanehan "Kota" Rangkas,Rangkas beitu asing buat kita yg nak desa.

Ya,semat Kampung njeplak di dada kita. Kita hanyalah orang kampung yang lugu, sangat lugu sekali. Namun semangat kita membara,cinta kita mengharu biru,dan darah kita menggelegak dalam asa PERUBAHAN. Ya,benar kita mencintai PERUBAHAN. Framework berpikir "kampung" dan "ndeso" yang regresif kita buang ke tong sampah lalu kita isi dengan framework "open minded" yg prOgresif. Terutama cara pandang beragama kita,kemandirian.Sekali lagi PERUBAHAN...
ITU SEMUA BERAWAL DARI SMUN 1 RANGKASBITUNG.
27-04-2008,22.30

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...

Menikah Untuk Bahagia

Aku merasakan keharuan yang dalam saat mendengar senandung Edcoustic mengalun merdu dalam resepsi pernikahanku. Hampir saja aku tak kuasa menahan tumpahan air mataku. Kutatap sekilas wajah istriku yang berdiri di sampingku. Nampak kelelahan tergambar jelas dari wajahnya. Betapa beruntungnya diriku, Alloh pilihkan seorang gadis yang istimewa untukku. Sangat istimewa. Terima kasih Ya Alloh. Sepertinya lirik nasyid Edcoustic menyindirku secara langsung. Lirik nasihatnya melahirkan rasa malu dalam hatiku. Ah, sepertinya aku tak kuasa menahan tumpahan air mataku. "Sayang.." Ujarku lembut. "Aa mau ke belakang dulu ya. Sebentar." Kubelai kepalanya dengan lembut sambil berlalu menuju kamar pengantin. "Ya Alloh, terima kasih Ya Rohman. Betapa Maha Baiknya Engkau kepadaku, Engkau karuniakan laki-laki pendosa nan hina sepertiku ini seorang istri yang sholehah. Padahal betapa banyaknya dosa yang telah kulakukan. Ampuni aku Ya Ghoffaar..." Air mataku tumpah tak terta...

4 X 6 or 6 X 4

Sekarang kan lagi heboh tentang perkalian 4 X 6 dan 6 X 4. Gue jadi inget dulu pas mau masuk SMA. Gue disuruh nyuci foto buat melengkapi pendaftaran. Kebetulannya tempat cuci fotonya cuma ada di kota kabupaten, Rangkasbitung. Di kampung gue gak ada tempat nyuci foto ada juga seeng, haseupan, kanderon, bakul dan sebagainya. Pagi-pagi banget gue dianter paman gue, Mang Endin namanya, babehnya neng Ririn Agustia. Sampe ke Rangkas gue ditinggal di studio foto, Mang Endin sendiri pergi belanja. Sampai di tempat cuci foto, tukang cuci fotonya nanya sama gue, "4 X 6 berapa De?" Gue jawab secepat kilat, "24, Pak." Bener kan jawaban gue, gak salah. Emang 4 X 6 itu kan 24. Dicetaklah 24 buah. Trus deh gue pulang. Pas gue ketemu Mang Endin di Terminal Mandala, gue nanya, "Qi banyak amat fotonya? Kan butuhnya cuma 4." Gue jawab kembali dengan polosnya, "Gak tau Mang Endin. Tadi sih tukang fotonya nanya 4 X 6 berapa, yaaa Iqi jawab 24." Mendengar jawaban ...