Langsung ke konten utama

Romansa Cinta IPB

Medio Agustus 2012

Hening malam memagut jiwaku. Kutatap purnama rembulan di langit malam. Hembusan nafasku terasa berat. Aku merindukannya. Sangat merindu. Kupeluk lutut tirusku, bara rindu menyala-nyala dalam dadaku. Berat nian kurasakan beban cinta ini.

Aku merindukannya dengan setinggi-tingginya hasrat merindu. Meirina. Namanya mengharu biru menggelorakan sejuta rindu selaksa syahdu dalam jiwaku. Darah mudaku menggelegak, panasnya membakar asmara mudaku.

Kugigit bibir bawahku. Aku harus bisa menerima kenyataan. Aku tahu ini berat, tapi inilah fakta. Meirina bukan milikku lagi. Ia telah menikah dengan laki-laki lain. Aku tak punya hak sedikit pun menggugat kenyataan ini. Kutarik nafasku sedalam-dalamnya. Kesadaran seketika menyeruak segari jiwaku.

Wahai Tuhanku, berikanlah aku kekuatan untuk melontarkan bayangannya jauh ke dada langit, hilang bersama purnama rembulan malam. Agarku bisa bahagia walaupun tanpa dirinya di sampingku.

Wahai Tuhan, gantikanlah yang telah hilang, tumbuhkanlah kembali yang telah patah. Walaupun tidak sama dengan dirinya. Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buatku. Karena Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik buat hamba-Mu ini.

Desember 2004

Suatu senja di tangga darurat lantai 7 Fakultas Syariah UIN Syahid.

Perlahan temaram senja membangunkanku dari pagutan daya akalku. Ah, hampir satu jam ba’da Ashar aku menikmati renungan senjaku. Sejak kuliah di sini, aku memang memiliki kebiasaan menyendiri di lantai paling atas ini. Tepatnya di tangga keluar darurat. Tempat yang sepi dan jarang dilewati.

Kebiasaan merenung ini membuatku mawas atas segala perubahan-perubahan yang terjadi dalam diriku. Dan dalam temaram senja ini, aku merenungi gejala-gejala perubahan diriku. Ada yang salah dengan diriku.

Perlahan kucoba renungi dan analisis apa yang salah dalam langkah dan tingkahku. Masih segar terasa saat diskusi kelas mata kuliah tafsir hadits. Debat panjang berlarut-larut. Akhirnya tanpa tedeng aling-aling kukatakan.

“Percuma saja kita berdebat kusir, sampai kapanpun kita tidak akan mendapatkan titik temu. Lagian kita memperdebatkan sesuatu berdasarkan sumber hukum (Al-Quran) yang tidak bisa dilepaskan dari konteks saat hukum Quran ini berlaku. Intinya, Al-Quran adalah produk budaya, produk peradaban Arab yang membawa unsur budaya dan nilai peradaban Arab. Oleh karena itu, tafsir Al-Quran pun bersifat relatif, bukan absolut. Kebenarannya mungkin cocok untuk budaya Arab, tapi belum tentu tafsirnya cocok untuk kita di Indonesia.”

“Kita harus merintis tafsir Al-Quran yang ke-Indonesia-an, sehingga menghasilkan tafsiran hukum yang lebih membumi, lebih humanis, lebih modern, lebih progresif, dan tidak jumud. Artinya, kita melahirkan tafsir yang lebih ilmiah dan modern, yaitu tafsir kontekstual. Kalian pasti tahu, hampir seluruh tafsir Al-Quran di seluruh dunia ini bersifat tafsir tekstual. Dari abad pertama Islam sampai sekarang tafsirnya tidak jauh beda. Sangat monoton sekali. Sangat membosankan seperti halnya semua kitab Fiqh yang selalu diawali masalah thaharoh. Sudah saatnya kita berubah, merekonstruksi tafsir jadul (tekstual) menjadi tafsir modern (kontekstual).”

“Salah satu contoh penafsiran tekstual Al-Quran adalah masalah hukum potong tangan, hukum rajam, dan masalah hukum jilbab. Mengerikan sekali. Sangat tidak humanis. Bayangkan saja. Kita hidup di zaman modern, masa masih ada potong tangan dan hukum rajam. Kejam amat.”

“Inilah salah satu yang dihasilkan dari tafsir tekstual. Padahal, tafsir yang dihasilkan bila penafsirannya kontekstual akan lebih manusiawi. Perlu kita ketahui, latar belakang bangsa Arab itu kaum barbar. Kaum bengis yang selalu berdasarkan ‘siapa kuat dia menang’. Tentu saja berdasarkan kultur seperti ini terciptalah hukum yang bengis dan kejam pula. Sangat pantas untuk kultur Barbar.”

“Zaman berubah, tentu saja hukum potong tangan dan rajam sudah tidak berlaku lagi. Zaman sudah berubah, men. Orang jahat tinggal kita serahkan ke polisi. Di penjara beres.”

“Begitu juga tentang jilbab. Itu sebenarnya diberlakukan karena orang Arab memang nafsunya besar. Kalian pasti sering mendengar kalau ‘burung’ Arab itu besar-besar. Maaf, aku tidak jorok atau parno, cuma berbicara fakta kontekstual. Artinya, jika kita bisa menahan nafsu, ya jilbab hukumnya tidak wajib bagi muslimah. Hahaha...” Aku dan beberapa temanku terbahak-bahak saat beberapa teman nyeletuk tentang ‘burung’.

Sejujurnya hatiku tidak tertawa seperti halnya mulutku. Ada sesuatu yang mengganjal dalam jiwaku. Sangat tidak nyaman. Entahlah. Terkadang aku kebingungan saat mendengar mulutku sendiri mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan sensitivitas agama, namun aku berani melawan pakem, melawan arus mayoritas kaum muslimin. Namun, hanyalah kebingungan dan kekalutan yang kurasakan pasca ucapanku yang menggugat pakem.

Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kaki panjangku menuju lift untuk naik ke lantai 7. Dan aku pun tahu, ada sepasang mata berlian sebening embun, seorang gadis cantik berwajah pualam nan anggun berkerudung ungu, memperhatikan kegelisahanku. Sejak awal kuliah ia memperlihatkan perhatian yang lebih kepadaku. Aku bisa merasakan dari tatapan sayunya. Tatapan yang menyinarkan bara harap, bara cinta, dan bara rindu. Ah, biarlah. Aku tak peduli. Aku hanya ingin rasa bimbang dan kalut ini hilang dari jiwa dan akalku.

Aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sejuta rasa mengharu biru memagut jiwa mudaku. Aroma asmaranya memabukkan jiwaku. Wahai Tuhan, seperti inikah cinta itu ternyata. Aku terbuai alunan nada-nada simfoni cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

MODUS OTAK ORBA???

Saat musim kampanye saling menjelek-jelekkan calon lawan itu wajar dan lumrah terjadi. Bukan hanya Jokowi yang dijelek-jelekkan oleh pendukung lawan politiknya, Prabowo pun sama dijelek-jelekkan juga oleh para anti Prabowo. Foto-foto rekayasa yang super aneh membully Jokowi dan Prabowo tersebar secara masif di socmed. Jadi, kesimpulannya adalah Jokowi dan Prabowo sama-sama dirugikan KETIKA itu. Sosok MA yang katanya menjelek-jelekkan Jokowi dengan foto rekayasanya hanyalah salah satu di antara ribuan bahkan mungkin jutaan dari para pembenci keduanya. Apa yang dilakukan MA hanyalah euforia pilpres yang bukan hanya dilakukan MA tetapi dilakukan pula oleh ribuan simpatisan keduanya. Dan yang mengalami bullying itu bukan hanya Jokowi tetapi juga Prabowo. So, musim kampanye apa sih yang tidak terjadi. Dewasa dikit napa Pak Polisi. Pak Polisi menjeratnya dengan UU ITE dan UU Pornografi. Pak Bos, kita gak bodoh-bodoh amat kali. Itu yang lebih porno dibanding yang diposting si MA ban...

Firasatku..

Entah di dunia entah di akhirat saat Alloh membuka aib-aibku. Dan aku mungkin hanya bisa tertunduk lesu mengguguk penuh tangisan penyesalan. Sesal memang selalu di akhir. Beginilah hidup mengajarkan kita. Kita tidak pernah tahu masa depan kita. Mungkin jika saja kita tahu, kita akan berjalan dengan sebenarnya. Tidak harus mampir kesana kemari. Ah, beginilah hidup. Mungkin kita iri melihat kehidupan beberapa orang sahabat yang begitu mulus perjalanan hidupnya seolah tak ternoda. Sedangkan kita harus ternoda terlebih dahulu. Maha Kuasa Alloh, aku tahu ini adalah sebuah suratan takdir yang harus kujalani. Memang penyesalan itu memerihkan jiwa kita. Sakit sekali. Air mata pun kering kerontang tak sebanding dengan ruahnya dosa kita. Hidup harus terus berjalan. Memang kita ini makhluk pendosa. Tapi hidup harus terus berjalan tanpa henti. Menyesali keadaan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Teruslah bergerak, teruslah berbuat kebajikan semoga saja Alloh mengasihani kita yang hina in...