Langsung ke konten utama

Dekap Malam

Tumbuh sejumput sesal yang mengharu biru sanubariku.  Tak terasa air mata membasahi paras tirusku. Aku menyesalinya. Namun, takdir tak memungkinkanku untuk kembali. Iya, aku tak pernah bisa kembali mewaktu bersamanya.

Ia akan menikah besok dan aku hanya bisa tersenyum getir menerima kabar "bahagia" darinya. Lintasan kenangan tak terhindarkan lagi memenuhi kepalaku. Laksana tersetrum aliran listrik nan dahsyat. Aku berusaha menghubunginya kembali,

"Kamu serius untuk menikah dengan laki-laki lain selain diriku?" Tanyaki penuh syahdu. Terdengar helaan nafasnya yang berat.

"Hampir dua tahun aku menunggumu. Selama itulah aku berharap engkau berani datang menghadap orang tuaku. Tapi, kenyataannya kamu tak pernah datang. Harus sampai kapan aku menunggumu?" Terdengar isak tangis di seberang sana.

Aku terdiam penuh sesal. Semua ini salahku. Kini penyesalan ini kutanggung. Seolah mimpi, semua kisah perjalanan hidupku bersamanya tersibak dalam layar lebar. Terpampang semua kebaikan dan perhatiannya kepadaku. Aku bak seorang laki-laki buta yang tak bisa melihat semua kelebihannya.

Kini semuanya terlambat saat aku ingin awali hidup bersamanya.

--***--

Medio Juni

Bak sebuah melodrama yang romantis kisah ini. Romansa yang mengharu biru. Aku mengenalnya di sebuah taman kampus dan seketika aku langsung terpesona.

(to be continued..  Banyak ebook yg blm dibaca.. Belajar cuy!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESEMPATAN YANG KEDUA

"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...

TAKUT

Rasa takut adalah suatu perasaan yang timbul apabila orang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Kalau orang membayangkan hal-hal yang hebat, malapetaka yang akan menimpanya di masa depan, maka orang itu akan dicekam perasaan takut. Takut dan khawatir hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang membayangkan hal-hal yang belum tiba, memikirkan masa depan dan mengkhayalkan kejadian-kejadian mengerikan yang mungkin menimpa diri kita. Kalau kejadian itu sudah datang menimpa kita, maka rasa takut itu pun tidak akan ada lagi. Kemudian muncul kembali rasa takut membayangkan hal lain yang mungkin datang menimpa kita yang lebih hebat lagi. Kalau ada wabah mengamuk, kita yang belum terkena penyakit tentu menjadi ketakutan dengan membayangkan bahwa kita akan terkena penyakit itu. Akan tetapi kalau penyakit benar-benar sudah menimpa kita, kita tidak lagi takut menghadapi penyakit yang sudah diderita, yang kita takuti mungkin kematian yang belum tiba. Pendeknya, segala hal yang belu...

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...