Langsung ke konten utama

Lelaki Dalam Diary

Kamis, 08 Romadhon 1428 H, 13:00

"Gerak perubahan"

Selang waktu berlalu. Usiaku bertambah Alhamdulillah ilmuku pun bertambah. Fisikku pun berubah semua bergerak menuju sebuah perubahan. Sebuah sunnatulloh. Namun bagaimana dengan kedewasaanku? Aku merasa stagnan, mungkin karena iman yang turun. Malahan dalam hal iman aku mengalami dan merasa turun drastis. Waktu SMA aku mengalami militansi yang luar biasa,tapi ba'da SMA semuanya turun. Kenapa ya?

"Menatap Masa Depan"

Mario Teguh, "Membangun mental yang tak dibatasi". Itulah tips mario Teguh yang membuatku "bangun". Ya,cobalah bercermin. Dan sadarilah bahwa Anda berubah, keriput yang nampak, fisik yang berubah,dan sebagainya. Sadarilah lalu tersenyumlah bahwa Anda tidak tergantung oleh semua itu. Bangunlah mental bersyukur atas apa yang sudah terjadi dan jangan tangisi masa lalu karena meman tidak akan kembali lagi. Tersenyumlah!

ketika hinaan, cemoohan, ejekan orang lain kepada kita. Maka bangunlah sikap mental yang tak dibatasi. "Kok masih pengangguran ya?" Biarkan saja, hadapilah dengan ucapan terima kasihatas masukan oarang lain. Berbahagialah! Optimislah!Optimislah, masa depan menanti Anda. Optimislah, cita-cita kan tercapai. Optimislah, semua kn tercapai. Jangan menyerah. Biarlah yang lalu biar berlalu. Biarlah yang terjadi , terjadilah. Hadapi kenyataan hidup dengan senyuman. Optimislah. Bahagialah.

Bekasi, 22-09-2007, 16:41

"Fase"

Aku memang sedang memasuki sebuah fase, entah nama fase tersebut, kujalani saja. Aku sebenarnya pusing, cemas sekaligus gemas atas apa yang terjadi di fase ini. Tapi aku juga tak mau pusing sebenarnya, soalnya hanya membuat kepalaku pusing tujuh keliling (lieur). Aku menganggapnya hanyalah sebuah fase yang suatu saat akan berlalu. Semuanya kn berganti. begitulah...

"Dunia yang Kurasa"

Semilir senja menghentak jiwa namun jiwaku enggan berkomentar terlalu jauh. Aku jenuh aku gelisah aku resah. Semua yang kuimpikan takkan pernah kembali semua pergi (oh tidak, tidak semua hanya sedikit sekian persen saja yang pergi dari diriku). Kadang aku merasa lelah menanti yang takkan kembali. Menunggu yang tak pasti. Aku ingin seperti dulu dengan segala kemewahan diriku, dengan segala yang kupuja. aku tahu jiwaku sedih, resah gelisah, marah, kecewa,dan entahlah..., semua menyeruak dalam hatiku,bercampur menjadi satu. Terkadang ketika emosi, akupun bingung atas apa yang terjadi padaku. Ketika aku membutuhkan sesuatu yang kubanggakansemua pergi. Entah... Ya Alloh inilah ujian-Mu.

Citeras, 26 Romadhon 1428
"Yang Kucari"

Lalu apa yang kucari dalam hidup ini? Apa? Kesenangankah? Kebahagiaankah? Aku tahu dunia ini fana, begitu pula diriku akan mengalami kematian yang sangat.
Aku memang tak lebih dewasa dari Kusnadi. Sadarilah wahai diri.Semua sudah berubah, semua takkan kembali. Yang lalu biarlah berlalu. Semua bergerak menuju suatu perubahan. Ya, perubahan. Sadarilah perubahan di sekelilingku, jangan lenga, jangan lalai.

Sedih memang, itu wajar. Pilu memang, itu wajar. Terlalu pilu untuk dikenang. Inikah kenyataan hidup yang harus aku terima sebagai prosesku dalam hidup. Beginilah hidup mengajarkanku. Dalam rentang yang tak begitu lama aku berubah. Ooh, beginilah hidup mengajarkan kami. Beginilah hakikat hidup.

Mencari popularitas, mencari perhatian orang hanyalah "penipuan" diri. Mungkin orang lain tertipu, tapi tak bisa menipu diri.

Ya Alloh, kuatkan hamba. Berilah hamba kekuatan agar hamba bisa mengambil hikmah dalam hidup yang singkat ini. Betapa hamba telah lalai akan kematian yang tak terduga ini. Duuuh, begitu sesalnya hatiku ketika kematian datang dan diriku dan diriku dalam keadaan lalai terbelenggu nafsu ingin dikenal, terbelenggu penjara lahiriyah. Seharusnya aku belajar dari hidup ini jangan malah memunguti sampah-sampah yang tak berguna dari hidup ini.

Dunia hanyalah tempat bersinggah bukan selamanya hanya kesementaraan. Oh, penjara dunia membuatku nelangsa.

ona, 26-10-2007, 21:30

"Long Road"

Aku masih berpijak di bumi, menyusuri langit-langit dunia. Terasa lelah, namun semua harus kujalani. Tiada henti karena aku masih bernafas, masih hidup.

Usia terusbertambah, semua perubahan kusadari. Ini sunnatulloh. Mau gak mau harus terjadi. Siap ga siap harus dihadapi. Usiaku 23 tahun 2 hari, cepat melesat perjalanan waktu ini tak terasa seolah hilang kesadaranku.
Oooh, ternyata aku semakin menua tumbuh menjadi seorang pemuda "dewasa". Dewasa. Benarkah aku dewasa???? Huh, entahlah.

Ramadhan berlalu. Apa yang telah kudapatkan wahai jiwa?? Apa yang tercerna dari Ramadhan mulia ini?? jangan-jangan malah belenggu nafsu, jerat setan pra ramadhan telah kembali lagi padaku. Ya aku merasakannya. Dan sekarang pasca ramadhan aku lebih parah dari sebelum ramadhan. Ya Alloh apa yang telah kulakukan?

Bersms ria dengan ***** ooooh sungguh menjijikkan, kenapa aku membiarkan nafsuku menari-nari??? Ooooh, gerak langkahku serasa henti, aku terdiam tergugu membisu. Hatiku semakin terluka. Aku telah berbuat maksiat. Aku ingin kembali kepada-Mu Ya Robbie.

Mengarungi samudra kehidupan yang luas butuh kekuatan iman. Dan aku tak punya energi itu. Imanku keropos, lemah tak berdaya. Kenikmatan jiwa, ketenangan kalbuku, kedamaian hatiku entah kapan bakal kudapatkan....

Dua puluh tiga tahun (23) bukan usia muda namun bukan usia tua pula. Dua puluh tiga tahun adalah usia produktif untuk berkarya dan beramal sholih.

Awal aku kembali ke kampungku kira-kira Maret 2007. Aku berpikir (berencana) ngajar bahasa Arab, lalu kemudian menikah. Namun ternyata apa yang terjadi sekarang ini ( semua ini) di luar
rencanaku. Aku memang terlalu menggampangkan sesuatu. Seolah perkara nikah dan mengajar itu perkara gampang.

22.10
Duniaku terkadang aneh, akupun merasakan dan mengakuinya. Kalau mau benar, benarlah, jangan setengah-setengah. Jadi tukang maksiat, maksiatlah. Oh,no..no...no..jangan.
Wahai diri sering-seringlah bermuhasabah. Jangan pernah merasa bahwa hidup kan selamanya. Yakinlah suatu hari kematian akan datang.

Bekasi, Selasa, 06-11-2007, 15:40

"Aku Hidup"

Aku hidup bukan mati. Aku hidup belum mati. Aku hidup pasti mati. Ya, aku pasti mati. Entah kapan, ini masalahnya. Aku ingin seperti halnya pemuda lainnya, pacaran , jalan-jalan, deket ma cewe-cewe. Intinya aku ingin membebaskan nafsuku. Aku pikir perasaan seperti ini wajar karena aku seorang pemuda yang normal. Aku memiiki tampang yang lumayan, tidak jelek, malah kadang disebut keren .Hahahahahaha.

Masalahnya....masalahnya... Apa yang ingin kulakukan, semua yang inging ku tumpahkan adalah DOSA,dilarang agamaku, Islam. Kalau begitu kenapa aku tidak mencari agama yang sesuai dengan hasratku,dan pas dengan segala keinginanku? Ada memang agama begitu,yaitu agama Syetan.

Hasil penelitianku, hasil jaulahku meneliti agama-agama. Aku menemukan titik sentral kehidupan yaitu adanya Rabb ( Tuhan) penciptaku dan pencipta alam semesta. Aku meyakini adanya Rabb (Alloh) yang Esa, lalu kuteliti agama-agama lain. Dan memang hanya Islamlah agama (din) yang benar, sesuai fitrah manusia. Tidak ada agama lain. Hanya Islam agama yang akalku puas menerimanya dan jiwaku tenang karenanya.

Aku meyakini kebenaran Islam dan kebenaran pembawa risalahnya Rosululloh muhammad. Aku meyakini semua ini :
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan aku bersaksi bahwa nabi muhammad utusan Alloh"
Dan konsekuensi dari keyakinanku ini adalah mengikuti (taat) dan patuh, menjalankan aturan, perintah dan larangan dalam Islam.
Namun nyatanya, begitu berat terasa meniti jalan ini. Godaan-godaan terus melanda dan merayuku. Ooh, godaan terus menggoda,rayuan terus merayu. Sampai kapan??? Mungkin sampai aku mati.

Aku pikir saat ini yang harus kulakukan ketika krisis iman ini adalah bagaimana meningkatkan iman terus menerus berusaha tanpa kenal lelah. Mungkin inilah ikhtiarku.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami "Akhie, lamaran ana ditolak oleh seorang akhwat dari Rangkasbitung."  Ucap seorang Al-akh di seberang telepon suatu senja. Piuh.. Huh.. Kuhembuskan perlahan nafas beratku. Hidup memang misteri. Hidup memang pilihan. Ketika seorang sahabat dekatku beberapa kali gagal menikah. Akun gmailku semarak dengan biodata-biodata akhwat yang masuk. Tentu saja nasib sahabatku itu lebih baik dari pada bersikap pengecut tak mau mencoba. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kutatap mentari yang sebentar lagi terbenam. Ada banyak hal yang kupikirkan dan kurenungkan dalam perjalanan hidup ini. Termasuk merenungkan kisah sahabatku ini. "Akhie Haidar, mungkin bukan akhwatnya yang menolak tapi keluarganya." Jawabku penuh simpati nan empati. Kali ini aku menerima keluh kesah dari salah seorang sahabatku. "Iya, akhi. Dari informasi ustadz ana, keluarganya yang menolak." Ujarnya lirih. Nada suaranya terasa menyimpan beban di hati. Tentu...

Menyemai Cinta

( Sebait cinta dalam menyambut INDONESIA BOOK FAIR, 02 - 10 November 2013 di Istora Senayan Jakarta ) Kawan, saat bangsa ini terpuruk pernahkah kita berpikir bahwa penyebab utamanya adalah kebodohan atau jauhnya ilmu dar i kehidupan kita? Kawan, membangun peradaban bangsa sejatinya adalah membangun peradaban ilmu. Membangun peradaban ilmu sejatinya adalah membangun peradaban buku. Kawan, kemajuan sebuah peradaban tercermin dari bagaimana sikap peradaban itu terhadap buku. Sejarah telah mencatat. bagaimana majunya peradaban Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana barat mengalami fase The Dark Ages, zaman kegelapan Kawan, sejarah tak pernah lupa bagaimana kontribusi peradaban Islam Andalusia terhadap renaissance Barat. Banyak mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Andalusia Spanyol. Kawan, dan kita tak lupa, begitu banyaknya karya-karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendi...