Langsung ke konten utama

Amin Rozak: Mujahid Ilmu Yang Gugur Di Jalan Dakwah


Kisah Para Fighter Sejati

   "Amin Rozak: Mujahid Ilmu Yang Gugur Di Jalan Dakwah"

Semilir angin malam sejukkan jiwa mudaku yang nestapa. Daun jendela tertiup mesra menyanyikan lagu syahdu saat bercumbu dengan dinding kamarku.

Kutatap kembali dua buah kutaib (kitab kecil / buku kecil ukuran saku) Bulughul Marom dan Riyadhus Sholihin di atas meja belajarku. Dua kitab yang tak pernah lepas kemana pun aku merantau. Bukan hanya karena kepraktisannya tapi setiap kali menatap kutaib ini, menyeruak semangat baru nan mengharu biru dalam jiwaku.

Pada halaman pertama di sudut kanan atas tertulis dalam aksara arab "Amin Rozak", nama salah seorang sahabatku yang telah gugur di medan jihad ilmu.

"Ya Alloh, aku menjadi saksi betapa gigihnya ia berjihad menuntut ilmu. Tempatkanlah ia bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Mu." Amin.

Di antara ratusan calon mahasiswa penerima program beasiswa ma'had syariah, hanya Amin yang berasal dari Bima, NTB. Tahapan-tahapan tes kami lalui bersama. Di sanalah aku pertama kali mengenalnya.

Dengan paras dan kulit khas daerah Indonesia Timur, parasnya terlihat kokoh dan kukuh sehingga jika kita belum mengenalnya terlihat sangat angkuh. Padahal tidak sama sekali.

Ratusan calon mahasiswa pun mengerucut menjadi dua puluh lima orang. Aku dan Amin termasuk yang lulus dan berhak menerima beasiswa belajar di bogor termasuk beasiswa ke Timur Tengah, Yaman.

Jila Amin lulus ujian masuk tentu tidaklah aneh, ia memang sebelumnya pernah mempelajari bahasa Arab dan memiliki hafalan Alquran. Sedangkan aku sendiri hanyalah korban kekejaman cuci otak liberalisme UIN.

Rehat sejenak, ceritaku tentang sahabatku Amin Rozak nanti akan aku lanjutkan setelah dinner alias "ngawadang". Tak usah tertawa. Cerita mini ini khusus kurangkai hanya untukmu seorang. Wahai bidadari bumi.

Cerita miniku ini suatu saat akan membumi menjadi sebuah buku dan kamulah penerima pertama bukuku ini. Hadiah terindah yang bisa diberikan oleh seorang penulis picisan sepertiku.

---***---

Sebuah peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan adalah saat Amin marah besar kepadaku. Aku sendiri tidak terlalu faham kenapa ia marah kepadaku. Namun setelah aku mengevaluasi aktivitasku saat itu, aku menyadari penyebabnya tiada lain karena kesalahfahaman saja.

Saat kami "bermain" di kantor majalah Islam yang dikelola yayasan ma'had. Amin bertanya kepadaku tentang sesuatu. Aku sendiri terlalu sibuk mengetik sehingga tidak menanggapi pertanyaan Amin.

Intuisiku berkata akan terjadi masalah sepulang dari sana. Ternyata benar. Sebuah tendangan hampir saja mengenai wajahku. Miris dan sedih sekali hatiku saat itu. Aku hanya terdiam penuh pilu.

"Ya Alloh.. Demi Engkau Wahai Robbie.. Aku telah memaafkan Amin sejak dahulu. Maafkanlah Amin.."

Ketika seseorang mengabdikan hidupnya untuk dakwah, sekecil apapun ia tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Apalagi kami adalah thullab yang focus belajar dinnul Islam.

Hatiku semakin gerimis saat teringat betapa seluruh muslim itu bersaudara ibarat satu tubuh. Saat satu bagian tubuh yang lain sakit, seluruh tubuh merasakan sakitnya. Hal ini pula yang kugugat dalam diamku terhadap Amin.

Dan tak lama kemudian, Amin pun menghampiriku dan memelukku memohon maafku. Terharu nian hatiku, semakin gerimis jiwaku. Semua peristiwa ini kurekam dengan jelas dalam diary hijauku.

Isu terorisme memakan banyak korban, termasuk yayasan kami yang notabene dibiayai para syeikh Arab. Dana milyaran rupiah pun tersendat. Jiwa petualangku menguat dan kuputuskan mencari beasiswa lain. Tidak demikian dengan Amin dan beberapa sahabatku. Mereka tetap di sana hingga beberapa tahun.

Dan kesabaran mereka pun berbuah manis. Keadan mulai membaik. Dana para syeikh Arab yang milyaran rupiah mulai mengalir lancar. Dan tibalah ditunaikannya janji yayasan untuk memberangkatkan para mahasiswa studi sarjana ke Timur Tengah.

Akhirnya, secara bertahap puluhan mahasiswa yang telah memenuhi syarat diberangkatkan menuju Yaman. Termasuk Amin dan sahabat-sahabatku. Kecuali diriku, tentu saja. Aku telah menerima beasiswa yang lain.

Singkat cerita, Amin yang semenjak lama mengidap sakit paru-paru tidak bertahan lama. Kekebalan tubuhnya tidak kuat bertarung dengan cuaca Yaman yang ganas. Ia pun sakit-sakitan dan tubuhnya pun kurus kering berbalut tulang.

Melihat kondisinya yang seperti itu. Akhirnya, diputuskan untuk memulangkan Amin ke Indonesia sekaligus memulangkannya ke Bima. Dan tak lama kemudian ia pun kembali kepada Alloh, Sang Pemiliknya.

Tentu saja aku tidak mengetahui jika Amin telah meninggal. Saat kejadian itu aku terlalu sibuk dengan rutinitasku yang baru sebagai karyawan sebuah hotel di Jakarta.

Hampir setahun lewat setelah Amin meninggal, kabar itu kuterima. Saat mendengar itu aku hanya bengong melongong seperti bermimpi mendengarnya.

Saat itu aku sedang berada di Kuningan Jawa Barat, mengunjungi salah seorang sahabatku sekaligus sahabat Amin pula. Ia pun bercerita tentang Amin. Dan kukonfirmasikan kepada sahabat-sahabtku yang kuliah di Yaman. Mereka membenarkannya. Ah, sedih nian hatiku mendengarnya. Aku merasa sangat terlalu sekali, mengetahuinya setelah lewat setahun. Sahabat macam apa diriku.

Satu hal yang kupelajari dari Amin adalah dibalik emosinya yang mudah naik, ia pun ditemani pula kehalusan perasaannya untuk segera melupakan masalah dan langsung meminta maaf.

Dan terakhir, semangat belajarnya yang tak pernah padam ditengah sakit paru-parunya yang menahun. Seorang fighter sejati tidak akan kalah hanya karena keadaan. Dan Amin Rozak adalah contoh seorang fighter sejati. Salah seorang mujahid ilmu yang pernah kukenal.

Terima kasih Ya Alloh telah memberiku kesempatan untuk mengenal salah seorang mujahid ilmu.

"Wahai Robbie, ampunilah Amin, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah kesalahannya."

"Ya Alloh, ampunilah segala dosanya, terimalah dia di sisi-Mu dan jadikanlah ia sebagai ahli surga-Mu.."

Selamat jalan Amin... Selamat jalan sahabatku. Semoga engkau tenang di sana. Karena Alloh Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Selamat jalan Amin... Do'aku selalu menyertaimu..


Djakarta, 12 sept '12   23:30 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

Felix Siauw Wedding Story

Felix Siauw wedding story Sekedar berbagi nikmat yang dikaruniakan Allah, sekaligus menguatkan Mukmin yang menikah betul-betul karena Allah.. Jangan pikir nikah itu mudah, dan jangan pikir semua indah. Justru sesudah nikah sebaliknya malah, harus lebih sabar dan istiqamah. Tapi tentu juga nggak sesulit yang dikatakan, yang jelas perlu ilmu dan keikhlasan. Saya jadi Muslim tahun 2002 dan baru 2006 menikah. Jadi, 4 tahun ditempa dan bersabar sebelum menikah. Selama 4 tahun itulah saya halaqah, dakwah, dan dibebani amanah, belajar jadi pemimpin di organisasi, bersiap untuk hari depan Niat saya menikah di tahun 2002 setelah Muslim kandas, karena kedua orangtua merasa saya belum pantas. Maka dari 2002 itulah saya serius menyiapkan diri bukan hanya untuk menikah, memburu ilmu menjadi seorang imam, suami dan ayah. Semua buku keteladanan Rasul sebagai suami saya lahap, juga belajar dari senior dakwah yang sudah menikah dan jadi teladan. Alhamdulillah tidak terlalu sulit mencari pasangan ...

Menyemai Cinta

( Sebait cinta dalam menyambut INDONESIA BOOK FAIR, 02 - 10 November 2013 di Istora Senayan Jakarta ) Kawan, saat bangsa ini terpuruk pernahkah kita berpikir bahwa penyebab utamanya adalah kebodohan atau jauhnya ilmu dar i kehidupan kita? Kawan, membangun peradaban bangsa sejatinya adalah membangun peradaban ilmu. Membangun peradaban ilmu sejatinya adalah membangun peradaban buku. Kawan, kemajuan sebuah peradaban tercermin dari bagaimana sikap peradaban itu terhadap buku. Sejarah telah mencatat. bagaimana majunya peradaban Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana barat mengalami fase The Dark Ages, zaman kegelapan Kawan, sejarah tak pernah lupa bagaimana kontribusi peradaban Islam Andalusia terhadap renaissance Barat. Banyak mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Andalusia Spanyol. Kawan, dan kita tak lupa, begitu banyaknya karya-karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendi...