Langsung ke konten utama

Freekick

Besok nikahannya Tubagus Roni vs Ratu Desi. Gue sama teman-teman kantor sudah siap-siap menyiapkan mobil untuk dateng ke nikahan mereka berdua. Terutama gue sudah menyiapkan juga batik baru yang lumayan keren. Gue beli sendiri itu, cuma kata seorang teman kantor gue, Pak Sukri,  katanya gue dibeliin janda. Huh, gile banget Pak Sukri, padahal mah iya dibeliin. haha.. boong dik. Emang gue Rafi Ahmad.

Tentang baju batik, gue masih agak trauma pas datang ke nikahan teman. Ada ibu-bu pake baju batik sama dengan gue. Batik pasangan suami istri gitu deh. Kacau banget langsung aj deh gue ngumpet, mana gue belom kenyang lagi. Udeh jadi rahasia umum kalau gue biasanya ngabisin "kejo" nikahan teman-teman gue.haha

Pas gue cerita sama teman-teman kantor gue, malah dibilanginya, "makanya elu jangan beli baju batik di Tanah Abang. Batik 35ribuan kaan?" Kacau...

Sebenernya sih kalau cwe cakep atau akhwat jilbaber yang pake batik pasangan mirip dengan gw, pastinya gue gak akan mempermasalahkan. Tapi, ini ibu-ibu, ngeri-ngeri sedap brow.. Ntar kalo anaknya ngeliat gue, trus dia manggil gue, "papah..papah.." mau ditaro dimana muke ganteng gue.. huuh.. kacau..

Akhirnya kemarin gw beli deh batik yang agak "gak biasa". Yaaah lumayan menambah kegantengan gue gitu.. Segitu aja freekick pertama gue.. Pasti lanjut..

Komentar

Anonim mengatakan…
Hahaha....

Postingan populer dari blog ini

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...

KESEMPATAN YANG KEDUA

"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...

TAKUT

Rasa takut adalah suatu perasaan yang timbul apabila orang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Kalau orang membayangkan hal-hal yang hebat, malapetaka yang akan menimpanya di masa depan, maka orang itu akan dicekam perasaan takut. Takut dan khawatir hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang membayangkan hal-hal yang belum tiba, memikirkan masa depan dan mengkhayalkan kejadian-kejadian mengerikan yang mungkin menimpa diri kita. Kalau kejadian itu sudah datang menimpa kita, maka rasa takut itu pun tidak akan ada lagi. Kemudian muncul kembali rasa takut membayangkan hal lain yang mungkin datang menimpa kita yang lebih hebat lagi. Kalau ada wabah mengamuk, kita yang belum terkena penyakit tentu menjadi ketakutan dengan membayangkan bahwa kita akan terkena penyakit itu. Akan tetapi kalau penyakit benar-benar sudah menimpa kita, kita tidak lagi takut menghadapi penyakit yang sudah diderita, yang kita takuti mungkin kematian yang belum tiba. Pendeknya, segala hal yang belu...