Langsung ke konten utama

Cinta Tak Pernah Salah

"Cinta Tak Pernah Salah"

Sebut saja namanya Aisha. Ia seorang akhwat yang berusia delapan belas tahun. Ia memang masih muda namun ia telah aktif dalam berbagai aktifitas dakwah. Melihat aktifitasnya itulah aku tak ragu-ragu lagi untuk mengajaknya menikah. Ia sendiri sebenarnya tidak menolak ajakanku hanya saja ia merasa terlalu muda untuk menikah dan terutama masih ada kakak perempuannya yang belum menikah.

"Kak, afwan. Ana sendiri merasa bahagia dengan ajakan kakak untuk menggenapkan setengaj dinn ini. Namun, mohon maaf sebelumnya, usia ana baru 18 tahun. Ana juga baru masuk kuliah. Terlebih lagi, ada kakak ana yang belum menikah."

Begitulah jawabannya ketika itu yang kubaca dari pesan BBM-nya. Aku hanya tersenyum saat membacanya. Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Dan tahu seperti apa wajahnya. Salah seorang ikhwan sesama mahasiswa-lah yang merekomendasikanku. Mungkin saking terlalu semangat langsung saja ia kuhubungi tanpa melalui mak comblang. Beruntungnya Aisha sangat menghargai niat baikku.

"Jika kakak berkenan, bagaimana jika ana ta'arufkan dengan kakak ana yang pertama. Namanya, Kak Najwa." Kutatap pesannya dengan antusias. Dengan sedikit tergesa kubalas pesannya.

"Wah, iya. Kak mau sekali. Syukron ukhtie." Balasku dengan antusiasme super tinggi.

"Alhamdulillah jika begitu. Jika kakak sudah siap, besok kita bertemu di Toko Buku Gramedia. InsyaAllah ana kenalkan dengan kakak ana. Semoga Alloh permudah jalan kakak untuk menyempurnakan dien ini. Aamiin.." Subhanalloh, Aisha saja begitu luar biasa akhlaknya apalagi kakaknya. Begitulah pikiranku.

Namun, tiba-tiba malam tadi pesannya kembali masuk. "Kak, mohon maaf. Ana lupa memberi tahu jika kakak ana belum 'ngaji'. Namun, ia sendiri InsyaAllah siap dibimbing dan ikut halaqoh. Jika kakak mau mundur tak mengapa. Syukron."

Hmhm.. Dugaanku keliru ternyata. Namun, terlanjur penasaran dengan Najwa kakaknya Aisha, akupun tetap melanjutkan niatku untuk ta'aruf.

Keesokan harinya aku berdandan dengan serapi-rapinya. Aku pikir penampilanku hari ini cukup gagah nan tampan. Ah, semoga saja tidak mengecewakan hatiku ta'aruf kali ini. Aku tak ingin gagal lagi.

Sekitar hampir setengah jam aku menunggu Aisha dan Najwa. Seorang gadis cantik berjilbab transparan lewat di depanku. Tercium aroma parfumnya yang membuai setiap lelaki. Ia diiringi seorang gadis berjilbab lebar yang sedang menggendong balita kecil nan lucu yang tertawa-tawa. Subhanalloh anggun sekali.

Awalnya, aku sendiri tak mengira siapa mereka itu. Tetapi, setelah kutelepon dan gadis berjilbab lebar itulah yang mengangkat teleponku barulah aku tahu merekalah Aisha dan Najwa.

Setelah aku mengucapkan salam, Aisha agak sedikit terkejut melihatku. Aku tahu ia terlihat salah tingkah dan terpesona melihatku. Dari tingkahnya aku tahu itu. Najwa pun nampak malu-malu saat diperkenalkan denganku. Namun,

Sejujurnya, jika dibuat perbandingan secara penampilan fisik. Najwa jauh lebih cantik dan menantang dibanding Aisha. Kematangan dan kedewasaan Najwa terlihat menonjol dari sikapnya yang lebih tenang dibanding Aisha.

Namun, dalam diri Aisha ada sesuatu aura tersembunyi dan pesona yang luar biasa yang menarik segala hasrat diriku kepadanya. Aisha memalingkan duniaku. Jilbab lebarnya begitu anggun nan mempesona. Aku merasa nyaman dan adem saat melihat dirinya. Aura keanggunan dan kecantikannya seolah menyembunyikan diri di balik jilbab lebarnya. Tak bisa kupungkiri jika hatiku tertambat olehnya.

Aku pikir ini bukanlah sekedar kecantikan. Iya memang betul sekali kecantikan Najwa begitu memancar namun entah mengapa kecantikannya tidak meluluhkan hatiku. Sungguh sayang sekali, Aisha belum siap menikah.

Ketertarikan Aisha dan Najwa memang kurasakan. Aisha nampak menjaga sikapnya walaupun begitu aku bisa membaca gesture 'sukanya' kepadaku. Berbeda dengan Najwa yang cenderung bebas dan terkesan vulgar menunjukkan ketertarikannya kepadaku. Aku tahu mungkin ketertarikan mereka hanyalah sekedar ketertatikan physically semata. Begitulah analisaku terhadap keduanya.

Setelah pertemuan itulah Najwa mulai menodongku dengan kelanjutan ta'arufku. Aku sendiri merasa tak enak hati harus menjawab apa. Apakah aku harus jujur dengan isi hatiku jika aku lebih tertarik dengan keanggunan Aisha? Ah, aku tak tega membayangkan kecewanya hati Najwa. Begitupun sebaliknya, jika aku mengatakan setuju untuk melanjutkan ta'arufku dengan Najwa. Aku merasa telah membohongi diriku dan dirinya.

Ah, entahlah.. . Biarlah Alloh yang memilihkan kelak. Aku tahu semuanya akan indah pada waktunya. Bismillah..

"Bila cinta harus memilih, aku memilih kamu, Aisha." Jerit hatiku. Terima kasih Aisha telah menjadi kisah dalam perjalanan cintaku.

#RisalahCinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami "Akhie, lamaran ana ditolak oleh seorang akhwat dari Rangkasbitung."  Ucap seorang Al-akh di seberang telepon suatu senja. Piuh.. Huh.. Kuhembuskan perlahan nafas beratku. Hidup memang misteri. Hidup memang pilihan. Ketika seorang sahabat dekatku beberapa kali gagal menikah. Akun gmailku semarak dengan biodata-biodata akhwat yang masuk. Tentu saja nasib sahabatku itu lebih baik dari pada bersikap pengecut tak mau mencoba. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kutatap mentari yang sebentar lagi terbenam. Ada banyak hal yang kupikirkan dan kurenungkan dalam perjalanan hidup ini. Termasuk merenungkan kisah sahabatku ini. "Akhie Haidar, mungkin bukan akhwatnya yang menolak tapi keluarganya." Jawabku penuh simpati nan empati. Kali ini aku menerima keluh kesah dari salah seorang sahabatku. "Iya, akhi. Dari informasi ustadz ana, keluarganya yang menolak." Ujarnya lirih. Nada suaranya terasa menyimpan beban di hati. Tentu...

Menyemai Cinta

( Sebait cinta dalam menyambut INDONESIA BOOK FAIR, 02 - 10 November 2013 di Istora Senayan Jakarta ) Kawan, saat bangsa ini terpuruk pernahkah kita berpikir bahwa penyebab utamanya adalah kebodohan atau jauhnya ilmu dar i kehidupan kita? Kawan, membangun peradaban bangsa sejatinya adalah membangun peradaban ilmu. Membangun peradaban ilmu sejatinya adalah membangun peradaban buku. Kawan, kemajuan sebuah peradaban tercermin dari bagaimana sikap peradaban itu terhadap buku. Sejarah telah mencatat. bagaimana majunya peradaban Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana barat mengalami fase The Dark Ages, zaman kegelapan Kawan, sejarah tak pernah lupa bagaimana kontribusi peradaban Islam Andalusia terhadap renaissance Barat. Banyak mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Andalusia Spanyol. Kawan, dan kita tak lupa, begitu banyaknya karya-karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendi...