Langsung ke konten utama

Butiran Debu

Tak ada wanita yang berharap ditakdirkan menjadi seorang janda. Termasuk diriku. Aku harus menerima kenyataan hidup ini. Aku tak ingin mengeluh toh sekeras-kerasnya aku mengeluh tetap saja hidup harus terus berjalan.

Jujur, kuakui aku masih trauma. Sakitnya masih terasa menyakitkan. Jika teringat perselingkuhannya aku hanya bisa menangis perih. Terkadang Nadia putriku satu-satunya terbangun saat mendengar isak tangisku di kelam malam. Iya, Nadia. Hanya dialah pelipur laraku. Entah apa yang akan terjadi jika saja tak ada Nadia di sampingku. Rasanya aku tak akan sanggup bertahan dalam kejamnya hidup jika tak ada Nadia.

Aku hanyalah seorang wanita biasa. Aku bukanlah wanita-wanita sholihah yang mampu bertahan sekuat karang saat diterjang gelombang kehidupan. Aku hanyalah wanita rapuh dan lemah yang terkadang jatuh dan mudah karam. Sekarang aku hanya bisa berharap Alloh karuniakan kepadaku kebahagiaan dan keberkahan hidup bersama Nadia.

Mungkin resiko seorang janda sering digodain laki-laki yang mmm...bolehlah disebut hidung belang. Terutama di kantorku. Betapa seringnya beberapa teman kantorku yang laki-laki sering mengajakku ke hotel dan sebagainya. Entah mereka bercanda atau tidak. Tetapi, sejujurnya sangat menyakitkan hatiku. Mungkin mereka anggap janda itu gampangan dan murahan dengan mau saja diajak ke hotel.

Mendapat perlakuan seperti itu di depan mereka aku bisa tersenyum tetapi saat dalam kesendirianku tak ada yang kulakukan hanyalah menangis. Alloh Maha Tahu apa yang kurasakan. Alloh Maha Tahu keadaanku. Aku tahu itu.

Kini aku hanya berharap Alloh menguatkan hatiku dengan semua ujian hidup ini. Aku yakin Alloh tak akan membebaniku hal yang tak kusanggup memikulnya. Semua ujian yang kuhadapi sekarang karena Alloh Tahu bahwa aku sanggup memikulnya. Bismillah...

Hidup harus terus berjalan tak ada lagi bagiku untuk mengadili masa laluku.

#RisalahCinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESEMPATAN YANG KEDUA

"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...

TAKUT

Rasa takut adalah suatu perasaan yang timbul apabila orang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Kalau orang membayangkan hal-hal yang hebat, malapetaka yang akan menimpanya di masa depan, maka orang itu akan dicekam perasaan takut. Takut dan khawatir hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang membayangkan hal-hal yang belum tiba, memikirkan masa depan dan mengkhayalkan kejadian-kejadian mengerikan yang mungkin menimpa diri kita. Kalau kejadian itu sudah datang menimpa kita, maka rasa takut itu pun tidak akan ada lagi. Kemudian muncul kembali rasa takut membayangkan hal lain yang mungkin datang menimpa kita yang lebih hebat lagi. Kalau ada wabah mengamuk, kita yang belum terkena penyakit tentu menjadi ketakutan dengan membayangkan bahwa kita akan terkena penyakit itu. Akan tetapi kalau penyakit benar-benar sudah menimpa kita, kita tidak lagi takut menghadapi penyakit yang sudah diderita, yang kita takuti mungkin kematian yang belum tiba. Pendeknya, segala hal yang belu...

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...