Langsung ke konten utama

Free kick 3

Suatu hari gue dan beberapa teman touring ke daerah puncak Bogor. Salah seorang dari kami hobi sekali kebut-kebutan dan selap selip tanpa takut kecelakaan. Sebut saja namanya Hamid.

Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh jua. Begitu juga dengan si Hamid ini. Tak sengaja motornya menyenggol sebuah mobil sedan merah sampai terlihat baret bekas senggolannya. Sang sopir pun berteriak marah.

"G*b**k sia. Kadie sia b***ng. Turun sia." Hamid yang masih kaget dengan senggolannya nampak semakin kaget dan ketakutan saja mendengar teriakan itu. Gue dan sebagian teman yang tepat di belakangnya segera menghampiri Sang Supir yang sedang menunjuk-nunjuk muka Si Hamid.

"Lihat sama lo. Mobil baru gua baret. Lo bener-bener buat gua marah. Ini tuh mahal tau belinya." Muka Sang Sopir memerah saking marahnya. Hamid sendiri hanya diam dan hampir menangis. Hmhm.. "Si Hamid cuma lagaknya doang kebut-kebutan ternyata cengeng juga." Pikir gue melihat sikap Si Hamid.

"Pokoknya lo harus ganti. Ganti sekian juta. Titik." Kembali Sang Sopir sedan merah teriak-teriak.

"Maaf, pak gak sengaja. Waduh pak, boro-boro sekian juta. Buat makan aja susah. Ini juga motor nyicil pak." Hamid nampak memelas.

"Bodo amat. Pokoknya lo harus ganti. Gue bener-bener sakit. Lo tau gak sih, sakitnya tuh di sini.. " Ujar Sang sopir sambil menyentuh dadanya dengan gemulai.

Kami yang tepat di belakang mereka berdua spontan berseru, "Owwww..." Sambil menggigit jari. Ternyata oh ternyata...

#Wkwkwkwkwk..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESEMPATAN YANG KEDUA

"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...

TAKUT

Rasa takut adalah suatu perasaan yang timbul apabila orang menghadapi sesuatu yang belum terjadi. Kalau orang membayangkan hal-hal yang hebat, malapetaka yang akan menimpanya di masa depan, maka orang itu akan dicekam perasaan takut. Takut dan khawatir hanya merupakan permainan dari pikiran kita sendiri yang membayangkan hal-hal yang belum tiba, memikirkan masa depan dan mengkhayalkan kejadian-kejadian mengerikan yang mungkin menimpa diri kita. Kalau kejadian itu sudah datang menimpa kita, maka rasa takut itu pun tidak akan ada lagi. Kemudian muncul kembali rasa takut membayangkan hal lain yang mungkin datang menimpa kita yang lebih hebat lagi. Kalau ada wabah mengamuk, kita yang belum terkena penyakit tentu menjadi ketakutan dengan membayangkan bahwa kita akan terkena penyakit itu. Akan tetapi kalau penyakit benar-benar sudah menimpa kita, kita tidak lagi takut menghadapi penyakit yang sudah diderita, yang kita takuti mungkin kematian yang belum tiba. Pendeknya, segala hal yang belu...

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...