Langsung ke konten utama

Logika Cinta

Aku merasa bak bidadari tercantik sedunia saat ia mengatakan keseriusannya untuk segera meminangku. Oh, bahagianya merayakan cinta dengan pernikahan. Sejak itu hari-hariku berbinar indah. Sangat indah.

"Aku ingin menikahimu karena Alloh." Begitulah ucapannya siang tadi. Aku terharu dan tergugu. "Bismillah. Ya Alloh, Permudahkanlah niat kami untuk menyempurnakan agama ini." Amin. Doaku lirih penuh haru bahagia.

Lelakiku ini sangat memesonaku. Aku mengaguminya bukan karena parasnya. Parasnya tergolong biasa-biasa saja. Ia tidak tampan. Aku serius. Tidak semua wanita cantik membutuhkan laki-laki tampan. Dan aku pikir, aku cantik. Tentu saja jangan bandingkan kecantikanku dengan artis.

Hmhm.. Tapi coba saja jika kamu tidak percaya akan kecantikanku, tanyakan saja pada semua laki-laki yang mengenalku. Pasti mereka akan mengatakan,"Oh, Si Neng...., Iya bener, dia cantik dan ayu. Orangnya putih, berjilbab lagi. اِ Ù†ْ Ø´َØ¢ Ø¡َ اللّÙ‡ُ sholehah."

Bukan maksudku ujub dan takabbur dengan memuji diri. Bukan. Maksudku adalah dalam mencari pasangan hidup untuk selamanya, kesempurnaan paras itu bukanlah hal utama.

Seperti yang aku katakan di atas. Tidak semua wanita cantik membutuhkan laki-laki yang tampan. Begitu juga sebaliknya. Tidak semua laki-laki tampan membutuhkan wanita cantik.

Sebuah nasehat indah yang selalu terngiang dalam diriku adalah "jika engkau mencintai seseorang karena rupa yang elok, maka cinta itu akan pudar bersama pudarnya keelokan rupa itu...."

Aku mencintai lelakiku dan ingin menikah dengannya bukan karena faktor keelokan rupa. Tapi, karena faktor yang jauh lebih tinggi nilainya dibanding faktor fisik, yaitu kedewasaan dan kematangan jiwanya dalam menghadapi problematika hidup. Faktor ketampanan jiwanya. Kegagahan jiwanya

Maksudku, dalam hidup tentunya kita akan menghadapi berbagai macam problematika kehidupan. Tentu saja tidak mudah menghadapi dan menyelesaikannya. Butuh kematangan dan kedewasaan jiwa. Butuh mental tangguh. Dan aku menemukan mental tangguh itu pada lelakiku. Ia seorang fighter sejati. Dan aku pikir, setiap wanita membutuhkan seorang pemimpin yang petarung sejati.

Terkadang aku sering mengujinya dengan berbagai keruwetan dan masalah yang aku rekayasa sendiri. Dan ia lolos sempurna. Face sih nilainya boleh enam, tapi mentalnya 100. Bagiku, tentu saja.

Oh iya, hampir lupa. Ia pun seorang lelaki yang menjaga kehormatannya dan kehormatan diriku. Tak pernah sekalipun ia menyentuhku. Ia bukan seorang yang sangat faham tentang agama. Tapi ia sangat tahu bagaimana seharusnya seorang laki-laki muslim itu bersikap.

Bagiku, sebuah pernikahan itu bukan hanya kerja cinta, tapi juga kerja ekonomi. Tidak salah jika seorang wanita mencari seorang lelaki mapan secara finansial. Itu keharusan, tentu saja. Matre itu wajib. Aku pun begitu.

Seperti ucapan Pak Mario Teguh yang aku bahasakan sendiri,"Kekayaan itu lebih langgeng dr ketampanan seorang pria. Jadi, pilihlah lelaki kaya dibanding lelaki tampan. Syukur Anda mendapatkan yang kaya sekaligus ganteng. Tampan itu bonus untuk Anda."

Pasti sebuah pertanyaan sudah kalian siapkan untukku,"Apakah lelakimu itu seorang yang kaya raya atau hartawan?" Inikah pertanyaan kalian?

Baiklah aku jawab. "Belum." Lelakiku bukan seorang yang kaya raya ataupun seorang hartawan. Lelakiku belum kaya raya dan belum menjadi hartawan.

Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan kuliah pun ia membiayainya sendiri. Aku tahu dengan pasti karena sebelum aku menerima keseriusannya, aku sudah menelitinya dan bertanya pada beberapa kenalannya. Kata kuncinya, teliti, amati dan tanya.

Jadi, jawabannya. Lelakiku belum menjadi orang kaya raya. Dalam bahasa vulgarnya, lelakiku bukan orang kaya.

Ah, nampaknya kalian hendak bertanya lagi. Aku tahu. Pasti ini, "Lalu kenapa kamu menerimanya jika kamu sendiri meyakini bahwa seorang wanita itu harus mencari laki-laki yang mapan secara finansial?"

Sebentar aku ingin tertawa sejenak saja. Maaf.

Kembali kepada curhatanku di atas. Jawabannya, "Karena ia seorang fighter sejati." Itu saja jawabanku. Nanti aku jelaskan. Perutku mules. Sebentar ya kawan.

Maksudku begini. Ketika mental lelakiku sang fighter, ia tidak akan berpangku tangan. Ia akan bekerja keras demi keluarganya. Demi diriku dan anak-anak kami. Tentu saja ini bernilai ibadah di hadapan Alloh.

Jadi, bagiku. Tidak apalah ia bukan bekerja tetap atau karyawan tetap yang penting ia tetap bekerja. Dan karena tetap bekerja tentu saja dapur pun tetap mengepulkan asap.

Begitulah prinsipku di atas. Tapi, alhamdulillah ya sesuatu.. Lelakiku ini seorang dosen di sebuah kampus swasta. Tentu saja penghasilannya tidak sebesar penghasilanku. Tapi, aku menghormatinya dan bangga akan sifat fighternya.

                                                                                ---***---


Hari istimewa itu pun tiba. Ia dan keluarganya tiba diiringi arak-arakan sederhana. Iya, hari ini adalah hari pernikahanku. Pernikahan yang sangat sederhana dengan adat sunda. Keluarga kami memang sudah sepakat untuk tidak merayakannya dengan mewah. Dan tentu saja ini pun kehendakku jua.

Salah satu prinsipku dan lelakiku, "Pernikahan bukan untuk sehari tapi selamanya. Janganlah menghabiskan puluhan, ratusan bahkan milyaran rupiah untuk sekedar resepsi pernikahan. Mubazir."

Alhamdulillah.. Indahnya merayakan cinta karena Alloh. Amin. Barokallohu lana wabaroka 'alaina wajama'a bainana fi khoirin..

Djakarta, 12 September 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami "Akhie, lamaran ana ditolak oleh seorang akhwat dari Rangkasbitung."  Ucap seorang Al-akh di seberang telepon suatu senja. Piuh.. Huh.. Kuhembuskan perlahan nafas beratku. Hidup memang misteri. Hidup memang pilihan. Ketika seorang sahabat dekatku beberapa kali gagal menikah. Akun gmailku semarak dengan biodata-biodata akhwat yang masuk. Tentu saja nasib sahabatku itu lebih baik dari pada bersikap pengecut tak mau mencoba. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kutatap mentari yang sebentar lagi terbenam. Ada banyak hal yang kupikirkan dan kurenungkan dalam perjalanan hidup ini. Termasuk merenungkan kisah sahabatku ini. "Akhie Haidar, mungkin bukan akhwatnya yang menolak tapi keluarganya." Jawabku penuh simpati nan empati. Kali ini aku menerima keluh kesah dari salah seorang sahabatku. "Iya, akhi. Dari informasi ustadz ana, keluarganya yang menolak." Ujarnya lirih. Nada suaranya terasa menyimpan beban di hati. Tentu...

Menyemai Cinta

( Sebait cinta dalam menyambut INDONESIA BOOK FAIR, 02 - 10 November 2013 di Istora Senayan Jakarta ) Kawan, saat bangsa ini terpuruk pernahkah kita berpikir bahwa penyebab utamanya adalah kebodohan atau jauhnya ilmu dar i kehidupan kita? Kawan, membangun peradaban bangsa sejatinya adalah membangun peradaban ilmu. Membangun peradaban ilmu sejatinya adalah membangun peradaban buku. Kawan, kemajuan sebuah peradaban tercermin dari bagaimana sikap peradaban itu terhadap buku. Sejarah telah mencatat. bagaimana majunya peradaban Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana barat mengalami fase The Dark Ages, zaman kegelapan Kawan, sejarah tak pernah lupa bagaimana kontribusi peradaban Islam Andalusia terhadap renaissance Barat. Banyak mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Andalusia Spanyol. Kawan, dan kita tak lupa, begitu banyaknya karya-karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendi...