Langsung ke konten utama

“Because Alloh”

Senja begitu cepat berlalu. Tak terasa hampir satu jam aku duduk di dalam mesjid Al-Jihad sambil tilawah alquran. Aku sedang menunggu ustadz Robie. Beliau adalah murobbieku. Beliau memintaku agar menemuinya senja ini. Namun, menurut istri beliau Ummu Safinah, ustadz sedang menjemput putrinya terlebih dahulu dan memintaku untuk menunggunya.

Aku tahu kenapa ustadz memintaku untuk menemuinya. Dua hari yang lalu ba'da “halaqoh”aku telah memberikan biodata ta'arufku kepada beliau. Dan aku tahu pasti ada kaitannya dengan semua ini. Ah, jika benar semoga Alloh mempermudah jalanku untuk bersegera menuju kebaikan. Aku ingin segera menggenapkan setengah dien ini. Bagi pemuda seperti tiada jalan lain selain menyelamatkan diri dari fitnah masa muda.

Sebuah titik klimaks dari perjalanan seorang pemuda. Hmhm.. sebuah senyuman tersimpul indah dari paras tirusku.

Terdengar deru suara motor di depan mesjid. Nampak, ustadz dan putrinya sedang turun. Ah, hatiku semakin deg-degan tak karuan. Saat ustadz melewati pintu masuk mesjid dan melihat diriku, spontan ia menghampiriku.

“Assalamu'alaikum, Akhie. Afwan antum menunggu lama. Sebentar ya nanti kita mengobrol ba'da maghrib.” Ujar beliau sambil tersenyum dan meninggalkanku dalam keadaan hati yang penasaran penuh dagdigdug.

Kembali kulanjutkan tilawahku. Dan tak berapa lama, muadzin mesjid mengumandangkan adzan maghrib. Senandungnya mengharu biru penuh romantisme masa silam saat awal mula Islam didakwahkan. Syukurku pada-Mu Ya Rohman, atas nikmat-Mu senja ini.

Ba'da sholat maghrib dan rawatib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Butiran Debu

Tak ada wanita yang berharap ditakdirkan menjadi seorang janda. Termasuk diriku. Aku harus menerima kenyataan hidup ini. Aku tak ingin mengeluh toh sekeras-kerasnya aku mengeluh tetap saja hidup harus terus berjalan. Jujur, kuakui aku masih trauma. Sakitnya masih terasa menyakitkan. Jika teringat perselingkuhannya aku hanya bisa menangis perih. Terkadang Nadia putriku satu-satunya terbangun saat mendengar isak tangisku di kelam malam. Iya, Nadia. Hanya dialah pelipur laraku. Entah apa yang akan terjadi jika saja tak ada Nadia di sampingku. Rasanya aku tak akan sanggup bertahan dalam kejamnya hidup jika tak ada Nadia. Aku hanyalah seorang wanita biasa. Aku bukanlah wanita-wanita sholihah yang mampu bertahan sekuat karang saat diterjang gelombang kehidupan. Aku hanyalah wanita rapuh dan lemah yang terkadang jatuh dan mudah karam. Sekarang aku hanya bisa berharap Alloh karuniakan kepadaku kebahagiaan dan keberkahan hidup bersama Nadia. Mungkin resiko seorang janda sering digodain laki-...

Main Hati

Gw sebenarnya waras atau masih waraslah. Tapi, entah kenapa ketika tertimpa masalah atau sesuatu yang dalam pandangan umum begitu mengecewakan, gw malah tertawa atau menertawakan diri sendiri. Hahaha.. Tiba-tiba saja gw ngikik tertawa sendiri. Sambil terdengar gema suara, "Emang enak, rasain lu." hahaha.. Dan tanpa gw sadari, mulut yang tertawa atau menertawan diri ini tiba-tiba membuat hati gw plong seolah tak punya masalah apapun. Wow.. Perlahan namun pasti gw menemukan sebuah ilmu baru, "Kondisi luar tubuh kita bisa berimplikasi terhadap jiwa kita". Ngerti gak loe maksud gw? Kalo loe gak ngerti, sama gw juga kagak ngerti. Hahaha.. Maksud gw, wajah yang tersenyum walaupun hati sedang sedih, sedikitnya akan memiliki pengaruh terhadap jiwa kita. Memasang wajah yang semangat nan optimis saat jiwa sedang sakit mungkin terkesan mustahil. "Bagaimana bisa tersenyum, orang lagi kena masalah?" Mungkin itu pertanyaan loe y? Hehe.. Faktanya gw terlalu sering me...

Firasatku..

Entah di dunia entah di akhirat saat Alloh membuka aib-aibku. Dan aku mungkin hanya bisa tertunduk lesu mengguguk penuh tangisan penyesalan. Sesal memang selalu di akhir. Beginilah hidup mengajarkan kita. Kita tidak pernah tahu masa depan kita. Mungkin jika saja kita tahu, kita akan berjalan dengan sebenarnya. Tidak harus mampir kesana kemari. Ah, beginilah hidup. Mungkin kita iri melihat kehidupan beberapa orang sahabat yang begitu mulus perjalanan hidupnya seolah tak ternoda. Sedangkan kita harus ternoda terlebih dahulu. Maha Kuasa Alloh, aku tahu ini adalah sebuah suratan takdir yang harus kujalani. Memang penyesalan itu memerihkan jiwa kita. Sakit sekali. Air mata pun kering kerontang tak sebanding dengan ruahnya dosa kita. Hidup harus terus berjalan. Memang kita ini makhluk pendosa. Tapi hidup harus terus berjalan tanpa henti. Menyesali keadaan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Teruslah bergerak, teruslah berbuat kebajikan semoga saja Alloh mengasihani kita yang hina in...