Langsung ke konten utama

Therapy Writing

Therapy Writing; sebuah keajaiban menulis

“Terima kasih kawans atas sarannya. Dengan menulis aku berani menjumpai masa laluku yang penuh luka dan emosi. Sudah terlalu lama aku menyimpan dan memendam semuanya. Banyak hal yang menyakitkan hatiku. Aku lelah. Namun, dengan menuliskannya aku seperti sedang membersihkan sampah-sampah emosiku yang selama ini sengaja kusembunyikan. Memang aku menangis saat menulis tetapi itu hanya sebentar. Sekarang aku merasakan kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa. Terima kasih, kawans!”

Dalam hidup kita akan mengalami berbagai permasalahan. Apapun itu permasalahannya yang terkadang begitu melelahkan jiwa dan menguras energi kita. Semuanya memendam menjadi sebuah endapan penyakit bahkan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menggelegar.

Sebagai orang timur kita terkadang terbiasa dengan kungkungan budaya "diam" dan "nrimo" atau menyembunyikan diri. Padahal sikap "menyembunyikan diri" atau menyimpan dan memendam masalah ini akan melahirkan kesuraman hidup di masa depan. Dan kita pun tak akan pernah bisa menikmati betapa indahnya hidup ini.

Wajah kita pun nampak suram dan pekat. Aura cahaya wajah kita tertutupi endapan emosi jiwa kita. Wajah kita pun begitu sulit mengukir senyuman. Jika pun tersenyum akan nampak sekali betapa palsunya senyum kita, hanya untuk menyembunyikan luka hati saja. Bagi yang berintuisi tinggi tentu saja bisa menilai senyuman tulus dan "palsu".

Endapan emosi jiwa ini akan menyiksa jiwa kita. Bahkan bukan hanya mengorbankan jiwa kita sendiri terkadang orang lain pun menjadi korban emosi jiwa kita. Mungkin kita pernah marah, sedih dan kecewa tanpa kita tahu penyebabnya. Dan keluarga kita, suami dan isteri kita dan anak-anak kita pun menjadi pelampiasan emosi jiwa kita.

So, kawans. Terapi menulis adalah sebuah terapi kuno nan sederhana namun sangat kreatif. Dan tentu saja sangat murah dan kita semua mampu melakukannya. Keterbukaan diri itu menyehatkan jiwa. Keterbukaan diri itu memulihkan "sakit jiwa" kita. Cobalah untuk terbuka terhadap diri kita sendiri. Menulis adalah ajang "jujur" terhadap diri kita sendiri. Dan menulis adalah saluran jiwa kita untuk melepaskan energi emosi negatif kita. Menulis adalah ekspresi jiwa.

Cobalah menulis "life-story" tentang diri kita. Tak perlu tulisan yang bagus dengan diksi yang membumi. Toh bukan untuk diterbitkan dan dibaca khalayak ramai. Kita menulis untuk diri kita. Kita menulis sebagai ajang "jujur" terhadap diri kita. Tuliskanlah kawans, sekarang juga.

Sebuah penelitian inspiratif seorang psikolog ternama Universitas Texas Amerika yang bernama Prof. Dr. James Pennebaker, mengungkapkan sebuah fakta menarik tentang menulis.

“Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh” dan "Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.”

Beliau melakukan penelitian terhadap 48 orang mahasiswa. Para responden itu diminta untuk menuliskan pengalaman mereka selama 15 menit selama 4 hari berturut-turut. Sebanyak 24 mahasiswa diminta untuk menukiskan pengalaman traumatinya, seperti kematian anggota keluarga, perkosaan, penyiksaan dan sebagainya. Sedangkan 24 responden lainnya diminta untuk menuliskan pengelaman mereka sehari-hari. Dan serelah itu, kejiwaan mereka diteliti secara intensif.

Dan hasilnya, mahasiswa yang menulis pengalaman traumatik menunjukkan fakta peningkatan kekebalan tubuh dan kesehatan jiwa dibanding mereka yang menulis tentang kehidupan keseharian mereka yang remeh temeh.

Salah satu orang yang membuktikan dan menikmati kesuksesan terapi menulis adalah aku sendiri. Dahulu aku adalah seorang laki-laki pemalu, pendiam dan tertutup yang tak pandai bercerita kepada siapapun. Tapi, sekarang aku bisa bercerita banyak hal melalui tulisan. Walaupun terkadang terkesan bawel bin cerewet. Setidaknya aku bisa mengekspresikan diri dan menunjukkan eksistensiku. Sekarang, aku bisa menjelaskan pikiranku kepada kalian dengan sebebas-bebasnya melalui tulisan-tulisan picisanku. Hore.. Hahaha..

“Orang yang menuliskan perasaannya selalu merasa lebih baik sesudahnya,” Begitu ucapan Prof. James. Dan aku membuktikannya sekali lagi. Saat hatiku gundah bin galau dan aku pun menulis, yang terasa setelah menulis adalah rasa plong dan lega. Serius. Coba kalian buktikan. Jika tidak percaya hubungi Prof. Dr. Muhammad Rizqi Gumilar, M.A. Dijamin kelenger makin gila. Xixixi..

So, manfaat menulis sangat banyak sekali. Aku akan menuliskannya secara garis besar yang kusarikan dari penelitian-penelitian para tokoh psikologi dunia. Inilah manfast menulis itu :

1. Menjernihkan pikiran dan perasaan ( Refresh Your Mind )
2. Mengenali diri Anda lebih baik ( Knowing Your Self )
3. Mengurangi stres ( Eliminate Stress )
4. Memecahkan masalah dengan lebih efektif ( Solve Your Problem )
5. Mengatasi kesalahpahaman dengan orang lain ( Overcome missunderstandings )

Prof. Penneabaker juga memberikan tips singkat bagaimana menulis yang benar yang aku tambahi dari berbagai sumber :

1. Menulislah untuk diri sendiri. Kita tidak harus datang ke terapis. Lakukan sendiri dengan menulis secara rutin setiap hari selama 20 menit.

2. Mulailah dengan menulis apa saja, di mana saja, dan lupakan tanda baca atau ejaan kata yang benar. Jujurlah pada diri sendiri, tulislah apapun juga.

3. Carilah tempat yang tepat untuk menulis. Karena privasi kadang dibutuhkan seseorang untuk menulis. Terpenting tempat itu membuat kita nyaman untuk menulis.

4. Menulislah dengan cepat. Biarkan perasaan yang menulis, biarkan mengalir seperti air. Ketika kita menulis tanpa berhenti, berarti kita telah mengaktifkan sisi kreatif di otak kanan.

5. Dan setelah menulis, berilah waktu pada diri sendiri untuk menenangkan diri dan introspeksi sesudah menulis. Ini bisa mencegah kesedihan sekaligus meningkatkan semangat hidup

Oke kawans. Mungkin cukup sekian "intermezo" malam ini. Kesimpulannya, melalui tulisan, kita bisa menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi kita. Dan terapi menulis ini bukan hanya akan menyehatkan jiwa kita tetapi sekaligus menyehatkan raga kita. Selamat menulis, kawans..

Semoga suatu saat aku akan bisa menjabarkan point demi point manfaat menulis seperti di atas. Selamat malam..

Salam "BISA KARENA BIASA"
Your Brother, Muhammad R. Gumilar


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...

Menikah Untuk Bahagia

Aku merasakan keharuan yang dalam saat mendengar senandung Edcoustic mengalun merdu dalam resepsi pernikahanku. Hampir saja aku tak kuasa menahan tumpahan air mataku. Kutatap sekilas wajah istriku yang berdiri di sampingku. Nampak kelelahan tergambar jelas dari wajahnya. Betapa beruntungnya diriku, Alloh pilihkan seorang gadis yang istimewa untukku. Sangat istimewa. Terima kasih Ya Alloh. Sepertinya lirik nasyid Edcoustic menyindirku secara langsung. Lirik nasihatnya melahirkan rasa malu dalam hatiku. Ah, sepertinya aku tak kuasa menahan tumpahan air mataku. "Sayang.." Ujarku lembut. "Aa mau ke belakang dulu ya. Sebentar." Kubelai kepalanya dengan lembut sambil berlalu menuju kamar pengantin. "Ya Alloh, terima kasih Ya Rohman. Betapa Maha Baiknya Engkau kepadaku, Engkau karuniakan laki-laki pendosa nan hina sepertiku ini seorang istri yang sholehah. Padahal betapa banyaknya dosa yang telah kulakukan. Ampuni aku Ya Ghoffaar..." Air mataku tumpah tak terta...

KESEMPATAN YANG KEDUA

"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...