Langsung ke konten utama

Hidup...

Tiba-tiba saja Bapa Aman bertanya, "Emang gak cape kerja terus kuliah?" Kata cape seketika terngiang di telingaku. Seketika pula tubuhku bereaksi dengan kata cape dan lelah.

Aku memang cape dan lelah. Aku mengakuinya. Jalan ke surga memang selalu melelahkan jiwa. Sekarang memang lelah, cape dan mengantuk. Tetapi, nanti kelelahan dan kecapekan kita akan terbayar lunas dengan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Aku adalah seorang pemuda. Bukan sekedar pemuda biasa, tetapi seorang Pemuda yang di pundakku tersemat identitas Islam. Iya, aku adalah seorang Pemuda Islam.

Tanggung jawab seorang pemuda Islam begitu besar. Ada ummat yang menunggu, ada keluarga yang menanti. Jika aku berpikir hanya untuk diriku saja. Apa artinya identitas Islam ini jika aku hanya diam dan diam.

Kesadaran ini betapa mahal. Aku bersyukur karenanya. Betapa banyak kaum muda Islam yang sibuk dengan aktivitasnya sendiri bahkan tak peduli dengan agamanya dan saudaranya yang tertindas.

Mereka hanya tahu bahwa Islam itu sekedar sholat, wudhu, puasa dan naik haji. Mereka merasa sudah berislam secara sempurna. Karenanya ketika saudaranya di Palestina dibantai Israel mereka tak peduli. Bahkan terkadang sinis.

Mereka pun terkadang nyinyir ketika minuman keras dilarang, free sex di haramkan.

*ngantuk....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta & Nafsu

Saat ini aku tak punya cinta untukmu. Aku hanya bisa memberikan nafsuku padamu. Tak ada cinta sedikitpun. Cintaku hanya untuk istriku kelak. Terserah kamu mau berkata apa. Toh jujur kukatakan. Tak ada cinta untukku padamu wahai gadis. Aku hanya bernafsu padamu. So, jangan dekati diriku sebelum sesalmu nanti.

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...