Langsung ke konten utama

Ustadz Nasruddin "Enerjik" As-Sasaki

"USTADZ ENERJIK"

Suatu malam ba'da maghrib ketika perkuliahan Bahasa Arab baru saja dimulai. Seorang lelaki sederhana dengan langkah enerjik tiba-tiba masuk ruangan kelas. Dan tanpa basa basi ia duduk di sampingku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang enerjik.

Ustadz pun melanjutkan perkuliahannya. Sesekali lelaki di sampingku menyela ucapan Ustadz. Sejujurnya aku merasa terganggu dan merasa aneh. Kutatap ia dengan seksama, tiba-tiba ia tersenyum lebar kepadaku. Otomatis akupun tersenyum pula.

Ketika ustadz menjelaskan tentang wajibnya belajar Bahasa Arab bagi kaum muslimin, lelaki itu terus saja menyela. Aku merasa terganggu sekali. Tetapi, apa yang ia katakan selalu benar. Seolah menambal materi perkuliahan Ustadz. Dan Ustadz pun nampak enjoy dan tidak merasakan itu sebuah masalah. Beliau tetap tersenyum.

Ustadz menjelaskan kepada kami tentang kajian bahasa pada Surat Al-Ankabut ayat 41

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui."

Beliau menjelaskan tentang kalimat,

الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتا
(laba-laba yang membuat rumah)

"Dari penggalan ayat itu coba kita bedah. Kata العنكبوت adalah mudzakkar (laki-laki) tetapi kenapa Alloh menggunakan kata kerja mu'annats (perempuan) yaitu اتخذت. Bagi kita yang tidak memahami Bahasa Arab pasti akan bingung."

Tiba-tiba lelaki disampingku menyela, "Dari penelitian yang saya tahu dan dari penjelasan para peneliti dikatakan bahwa yang membangun sarang (rumah) laba-laba adalah laba-laba yang betina (perempuan). Karenanya Alloh menggunakan kata اتخذت (mu'annats=perempuan)."

Dan...."أحسنت" (Kamu benar sekali) Seruan Ustadz terdengar nyaring. Semua mahasiswa serempak bertakbir dan bertasbih.

"Oleh karena itu, mempelajari Bahasa Arab wajib bagi kaum muslimin agar kita memahami agama ini." Ujar Ustadz.

Kutatap lelaki di sampingku. Aku merasakan kekaguman yang dalam kepadanya. Aku sendiri yang mengaku tukang baca buku ternyata baru mendengar itu. Aku tertinggal jauh ternyata. Astagfirullah al-Adzim...

Setelah pulang kuliah aku mampir sebentar di warteg dekat kampus. Tak lama kemudian lelaki sederhana itu masuk pula dan tanpa basa basi memesan makanan dan menyantapnya dengan enerjik. Melihat makannya yang lahap penuh enerjik membuatku tersenyum simpul.

"Mungkin ia lapar dan lelah." Pikirku. Dan tak lama kemudian ia selesai makan. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalasnya dengan senyuman lebar.

"Ana Nasruddin." Ujarnya memperkenalkan diri. Aku tersenyum dan memperkenalkan diri pula. Setelah perkenalan diri itu sikap kaku mulai mencair.

"Antum rumahnya dimana Tadz?" Prologku membuka obrolan.

"Ana aslinya dari Bima. Tetapi, ana sekarang tinggal di Mesjid Persatuan Islam Galur Jakarta Pusat." Jawabnya dengan lugas. Aku merasa seperti pernah mendengar nama mesjid itu.

"Wah, uwak ana juga rumahnya di Galur. Antum Galur sebelah mananya?" Tanyaku mulai menduga-duga siapa ustadz enerjik di depanku ini. Ia pun menjelaskan mesjid tempat tinggalnya.

"Uwak antum di sebelah mana?" Tanyanya. "Mmmm.. Antum tahu rumahnya dr.Yudhi gak? Istrinya bernama Teh Diah Yudi." Tanyaku kembali. Ia nampak kaget.

"Wah, antum saudara ana. Anak-anak dr.Yudhi belajar tahfidz sama ana. Bahkan Arik sudah hafal 1 juz." Jawabnya menyebutkan keponakanku dengan antusias.

Hmhm..Ternyata ustadz muda inilah yang disebutkan Teh Diah beberapa waktu yang lalu yang mengajari anak-anaknya mengaji. Ustadz yang sikapnya sederhana apa adanya. Bukan hanya enerjik tetapi Ustadz Nasruddin ini seorang hafidz pula. Ia lulusan ma'had tahfidz di Bima. MasyaAlloh..

Begitulah sekilas kisah malam ini. Terkadang kita mudah menilai seseorang tanpa kita tahu kualitasnya yang sebenarnya. Semoga Alloh memberkahi ustadz enerjik ini. Aamiin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Mencintai

Kita terkadang terlalu egois sehingga akhirnya kehilangan logika. Cinta itu membutuhkan logika jika tidak hancurlah hati kita. Jatuh cinta boleh kok. Sangat boleh. Tetapi, jangan sampai kehilangan logika. Ketika cinta ditolak, ketika Si Dia ternyata tidak menginginkan kita, ketika Si Dia memilih yang lain dan sebagainya. Kecenderungan kita ketika mengalami itu adalah kehilangan logika. Akibatnya pikiranpun kalut, sedih tak berujung, badanpun lemas tak berdaya. Inilah akibat kehilangan logika dalam cinta. Sebuah citra egoisme dan keakuan diri yang hakikatnya merusak diri. Hidup adalah sebuah pilihan. Semua orang mempunyai pilihan-pilihan hidup termasuk diriku, kamu, dia dan siapapun itu. Pilihan-pilihan hidup yang semua orang tidak bisa menggugatnya karena itu memang adalah hak hakikat diri setiap orang. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar jatuh cinta kepada kita. Sekuat apapun kita berusaha jika seseorang itu tidak jatuh cinta kepada kita. Itulah pilihan hatinya. Itulah pilihan ...

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami

Beginilah Hidup Mengajarkan Kami "Akhie, lamaran ana ditolak oleh seorang akhwat dari Rangkasbitung."  Ucap seorang Al-akh di seberang telepon suatu senja. Piuh.. Huh.. Kuhembuskan perlahan nafas beratku. Hidup memang misteri. Hidup memang pilihan. Ketika seorang sahabat dekatku beberapa kali gagal menikah. Akun gmailku semarak dengan biodata-biodata akhwat yang masuk. Tentu saja nasib sahabatku itu lebih baik dari pada bersikap pengecut tak mau mencoba. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kutatap mentari yang sebentar lagi terbenam. Ada banyak hal yang kupikirkan dan kurenungkan dalam perjalanan hidup ini. Termasuk merenungkan kisah sahabatku ini. "Akhie Haidar, mungkin bukan akhwatnya yang menolak tapi keluarganya." Jawabku penuh simpati nan empati. Kali ini aku menerima keluh kesah dari salah seorang sahabatku. "Iya, akhi. Dari informasi ustadz ana, keluarganya yang menolak." Ujarnya lirih. Nada suaranya terasa menyimpan beban di hati. Tentu...

Menyemai Cinta

( Sebait cinta dalam menyambut INDONESIA BOOK FAIR, 02 - 10 November 2013 di Istora Senayan Jakarta ) Kawan, saat bangsa ini terpuruk pernahkah kita berpikir bahwa penyebab utamanya adalah kebodohan atau jauhnya ilmu dar i kehidupan kita? Kawan, membangun peradaban bangsa sejatinya adalah membangun peradaban ilmu. Membangun peradaban ilmu sejatinya adalah membangun peradaban buku. Kawan, kemajuan sebuah peradaban tercermin dari bagaimana sikap peradaban itu terhadap buku. Sejarah telah mencatat. bagaimana majunya peradaban Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana barat mengalami fase The Dark Ages, zaman kegelapan Kawan, sejarah tak pernah lupa bagaimana kontribusi peradaban Islam Andalusia terhadap renaissance Barat. Banyak mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Andalusia Spanyol. Kawan, dan kita tak lupa, begitu banyaknya karya-karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendi...