Akhirnya terkuak rekayasa dan skenario ayahku terhadapku. Kini aku tahu jika ayahku sengaja ingin menjadikanku seorang kutu buku. Dia sengaja merancangku agar mencintai buku. Aku bangga dengan ayahku. Sangat bangga dan berterima kasih sekali. Kawan, apakah kamu tahu "rekayasa" apa yang dilakukan ayahku kepadaku.
Inilah rekayasa yang ia lakukan kepadaku agar aku mencintai buku;
Pertama, setiap ia mengunjungiku ia selalu membawakan hadiah buku-buku selain makanan tentunya. Sejak aku bisa membaca ia memberiku hadiah buku-buku Donald Bebek dan Majalah Bobo. Di lain waktu ia membelikanku cerita-cerita Eropa. Sampai sekarang aku masih ingat cerita buku-buku itu.
Kedua, aku selalu melihatnya sedang terpekur membaca buku atau mengisi TTS (teka-teki silang). Iya, hidupnya tidak pernah terlepas dari namanya kertas. Ia selalu meneladankan membaca di depan anak-anaknya sehingga saat ia "pergi", ia telah mewariskan keteladanan ( kebiasaan ) membaca dan warisan buku (ilmu) yang lumayan banyak.
Ketiga, suatu hari ayahku mengajakku ke IPB, Bogor, mengunjungi kakakku yang kuliah disana. Dan ia mengajakku mengunjungi perpustakaan IPB. Selain itu, ia pun mengajakku ke toko buku untuk membeli beberapa buku dan tentu saja membelikanku buku juga. Dan uniknya, ia memberikan pilihan bebas kepadaku hendak memilih buku yang mana.
Keempat, walaupun usiaku masih kecil ia sering mengajakku menghadiri acara bedah buku dan pameran-pameran buku ( book fair). Dan mengenalkanku dengan para penulis hebat nan cerdas.
Rekayasa yang sangat indah bukan? Pewarisan yang sangat mudah. Aku pun akan mewariskannya kepada anak-anakku, bukan hanya sekedar mewariskan harta tapi yang jauh lebih utama adalah mewariskan buku (ilmu) dan habits (kebiasaan-kebiasaan) yang baik. Ayo teladani ayahku.
"Taburlah gagasan, tuailah perbuatan. Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah karakter. Taburlah karakter, tuailah nasib."
"Wow, ternyata akhirat hanya begini saja. Aku pikir gimana gitu." Pikirku sambil tertawa riang. "Qiamat telah terjadi dan ternyata hanya begini saja. Aku masih melenggang bebas tanpa ada rintangan apapun. Hmhm... Aku memang layak masuk surga. Amal kebajikanku banyak pastinya Alloh memasukanku ke dalam surga. Hahaha..." Aku tertawa puas dan bangga sekali dengan diriku. "Aduuh panaaaaas... Ampuuun Ya Alloh... Aku bertaubat Ya Alloh.. Panaaas." Aku menghentikan tertawaku. Terkejut mendengar rintihan kesakitan. Di mana suara rintihan itu? Kepalaku menengok kanan kiri namun tak kutemukan empunya suara. Kuarahkan pandanganku ke bawah kakiku. Hah, aku terkejut bukan kepalang ternyata di bawahkulah tempat siksaan neraka jahannam tempat para pendosa. Kulihat jutaan sosok manusia sedang menghadapi hari penghukuman. Namun, mataku tertuju kepada sosok laki-laki yang rintihannya kudengar keras tadi. Kutatap ia dengan penuh rasa penasaran. Eh,sepertinya wajahnya tidak...
Komentar