Langsung ke konten utama

Cantik Beriman

"Cantik Beriman"

Saat pulang kuliah temanku tiba-tiba berbisik, "Qi, lihat tuh cowok yang duduk di sebrang itu cakep banget ceweknya. Dianya sendiri memble." Secara spontan tentu saja aku pun melirik pasangan yang dimaksudkan temanku.

Dari jarak sepuluh meter tentu saja aku bisa melihat jelas. Laki-laki berkulit hitam manis ( bahasa jujurnya : hitam) sedang bercengkerama dengan seorang gadis berkulit putih berambut panjang yaaa... mmm... cantiklah.

"Loe gak iri, Qi?" Tiba-tiba kata iri bergema dalam isi kepalaku. Iri? Aku iri? Sepertinya tidak deh.

"Kalau mereka itu pasangan suami istri dan istrinya berjilbab lebar. Tentu gue iri. Betapa beruntungnya laki-laki itu beristrikan wanita yang taat kepada Alloh. Kepada Alloh saja sudah taat apalagi kepada suaminya." Jawabku dengan mantaps.

"Yaelah loe kayak ustadz aja. Maksud gue, yaaa loe gak iri ngeliat cewek secantik itu didapetin sama cowok tengil kayak gitu?"

"Hmhmhm... Kenapa harus iri boy? Apalah artinya kecantikan kalau ia tidak dilandasi dengan ketaqwaan? Tidak ada artinya sama sekali. Justru wanita cantik tanpa iman itu berbahaya. Dia tanpa rasa malu bahkan bangga bermaksiat kepada Alloh. Kecantikan tanpa iman? Tidak ada artinya boy. So, ngapain gue iri?" Jawabku kembali dengan panjang lebar.

"Oooh begicu. Okelah, nanti gue nyari yang jilbaber cantik kalau gitu."

"InsyaAlloh semua jilbaber itu cantik boy. Tapi, masalahnya merekanya mau gak sama elu yang tengil juga? Hahaha... Kabuuuur."

#RenunganMalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta & Nafsu

Saat ini aku tak punya cinta untukmu. Aku hanya bisa memberikan nafsuku padamu. Tak ada cinta sedikitpun. Cintaku hanya untuk istriku kelak. Terserah kamu mau berkata apa. Toh jujur kukatakan. Tak ada cinta untukku padamu wahai gadis. Aku hanya bernafsu padamu. So, jangan dekati diriku sebelum sesalmu nanti.

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...