Langsung ke konten utama

Hidup Tak Kenal Henti

Kesibukanku bertambah sekarang. Aku memutuskan untuk kuliah Bahasa Arab. Hampir tujuh tahun selepas dari ma'had memang membuatku sedikit pikun dengan kecerdasan Arabic. Mau tidak mau demi sebuah cita-cita besar di masa depanku, aku harus bergerak dan melangkah.

Kecerdasan bahasa itu membutuhkan praktek. Jika tidak dipraktekan alamat pikun yang didapat. Dan lingkungan kampusku yang sekarang memang memberikan jaminan kemahiran Arabic. Bagaimana tidak, sehari-hari para mahasiswanya diwajibkan berkomunikasi Arabic.

Tetapi, sebenarnya alasanku untuk kuliah lagi salah satunya adalah statusku yang masih belum menikah. Aku adalah laki-laki yang normal. Sudah pasti pikiran mulai kalut dan pusiing. Daripada pikiran pusing memikirkan ketidakjelasan siapa calon istri lebih baik menyibukkan pikiran dengan ilmu.

Aku tahu betapa lelahnya tubuhku. Dari pagi hingga menjelng maghrib di kantor. Lalu tiba-tiba harus berjibaku dengan kemacetan satu jam untuk ke kampus. Aku tahu kapasitas tubuhku. Aku mampu berlelah-lelah jika hanya seperti itu. Mungkin jika saja kampusnya biasa saja mana mungkin aku mau jauh-jauh dan macet pula untuk datang ke sana.

To be continued.. Waktunya pulang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta & Nafsu

Saat ini aku tak punya cinta untukmu. Aku hanya bisa memberikan nafsuku padamu. Tak ada cinta sedikitpun. Cintaku hanya untuk istriku kelak. Terserah kamu mau berkata apa. Toh jujur kukatakan. Tak ada cinta untukku padamu wahai gadis. Aku hanya bernafsu padamu. So, jangan dekati diriku sebelum sesalmu nanti.

Bumbu Cinta

"Ayah sayang, melihat ayah makan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku bahagiaaaa sekali." Ujarku dengan sumringah. Tiba-tiba suamiku menghentikan makannya dan melotot kepadaku seolah marah. Tentu saja aku kaget bukan main. "Kenapa ayah? Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?" Tanyaku penuh sesal dan kecewa. "Enak dari mana?" Jawab suamiku terlihat marah. Sejenak ia terdiam dan menatapku dengan nanar. Tak pernah sekalipun ia menatapku dengan tatapan marah seperti ini. Tak terasa air mataku pun mengalir. "Bunda, jujur saja. Ini tuh... Duuuuuuhh.. Enak banget." Jawabnya sambil ketawa-ketawa dan memeluk diriku. "Iiih.. Ayaaaaah.. Tega banget sih isengin bunda." Teriakku sambil memukulinya dengan manja.. "Intermezo, sayang. Biar setiap hari kita bahagia dan seru terus. Ayah kaget sekali melihat bunda menangis. Maafkan ayah ya bunda sayang." Ujarnya dengan lembut sambil mencium mataku. Indah. Inilah bumbu cinta yan...

AKAL DAN WAHYU DALAM PANDANGAN IBN RUSHD DAN IBN TAYMIYYAH

Diarsipkan di bawah: DR.Hamid Fahmy zarkasih,M.phil , Seputar pemikiran islam Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan issue yang selalu hangat diperd ebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Issue ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi -argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya. ( Untuk diskusi tentang etika George F Hourani, Reason and Tradition in Islamic Ethic, Cambridge: Cambridge University Press, 1985) Mereka berorientasi pada usaha untuk membuktikan kesesuaian atau hubungan antara akal dan wahyu. (Lihat A.J.Arberry, Revelation and Reason in Islam). Dalam konteks ini konsep akal, wahyu dan ta’wil menjadi topik yang penting. Filosof Muslim terpenting yang berusaha membuktikan hubungan antara akal dan wahyu adalah Ibn Rushd (520 H/ 1126 A-595/ 1198) penulis buku Fasl al-Maqal dan Ibn Taymiyyah 662/ 1263 – 728/1328 A.H. penulis b...